Waspadai Bahaya Buka Puasa Berlebih

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Salah satu kesalahan yang biasa terjadi ketika berbuka puasa adalah langsung makan dan minum dalam jumlah banyak. Padahal, di sisi kesehatan hal ini tidaklah baik. Selain menyebabkan gula darah melonjak tinggi, juga berisiko terhadap radang lambung.

Kalap makan ketika berbuka puasa tentu berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut Ketua Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Hardinsyah, MS. PhD,melansir dari Kompas, makan berlebih bisa menyebabkan gula darah meningkat secara mendadak.

Dampak langsung dari kelebihan atau kekurangan gula darah adalah efek mengantuk. Ketika kita mengantuk, aktivitas penting dan ibadah pun berpotensi dilalaikan.

“Kalau ngantuk saja bisa membuat kita tidak bisa ibadah. Jadi tata cara puasa dan makan harus yang baik dan benar, jangan berlebihan,” kata Hardinsyah.

Ketika kenaikan gula darah tidak terkendali, lama kelamaan kita beresiko menderita diabetes.

Di sisi lain, makan berlebih juga tidak baik bagi lambung karena dipaksa mencerna makanan melebihi kapasitas yang biasa dicernanya.

“Yang biasa mencerna satu kilo, misalnya, sekarang lebih banyak. Akhirnya terasa sakit, radang lambung dan akan berefek ke tekanan darah, dan sebagainya,” ujar Hardinsyah.

Lapar yang telah kita alami selama berpuasa kadang membuat seseorang kalap saat berbuka. Dengan kata lain, makan berlebihan sehingga perut terasa sangat kenyang.

Hal itu tak dianjurkan. Sebab maag bisa saja menyerang akibat pola makan berlebih.

Assistant Brand Manager Mylanta, Dinda Parameswari melalui Tribunnews memaparkan, studi internal Mylanta menemukan 63 persen sakit maag timbul karena pola makan. Di antaranya, makan tidak teratur, telat makan, dan makan sembarangan.

“Biasanya perut kosong, lalu lapar mata pesan apa saja yang terlihat. Ini yang berbahaya,” lanjutnya.

Di samping itu, makan berlebih yang berlangsung dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kegemukan dan obesitas.

Data kesehatan menyebutkan, sebanyak 37,8 persen penduduk remaja dan dewasa Indonesia mengalami kegemukan dan obesitas.

BerdasarkanBerdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018, 85 persennya mengalami kegemukan pada bagian perut.

Banyak studi menyebutkan, kondisi ini bisa memicu sejumlah penyakit seperti hiperglikemia (gula tinggi), kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, stroke, pecah pembukuh darah di otak, penyempitan pembuluh darah di jantung, kencing manis, kanker, dan lainnya. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat