Waspadai, Adaptasi New Normal dapat Pengaruhi Kesehatan Mental

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan kondisi new normal atau normal baru untuk segera diterapkan. Kita pun diimbau untuk beradaptasi mengikuti cara hidup normal baru tersebut. Namun, jika sukar beradaptasi, kondisi ini dapat membuat stres dan berpengaruh terhadap kesehatan mental. Untuk itu, kita perlu mengantisipasinya.

Menanggapi kondisi pandemi yang tak kunjung selesai, Pemerintah RI memutuskan untuk menerapkan cara hidup baru mengikuti panduan new normal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tata cara hidup di era new normal di Indonesia pun disusun. Mulai dari sektor pendidikan, bisnis, ekonomi, pembangunan, dan sektor lainnya akan mulai aktif mengikuti panduan new normal.

Namun, dalam keadaan tersebut, dikatakan oleh Psikolog Klinis dari Dian Selaras Layanan Psikologi Bali, Ida Ayu Saraswati Indraharsani, pada kondisi normal baru ini, orang-orang diharapkan dapat beradaptasi. Karena dalam proses adaptasi ini, ia memandang adanya kemungkinan dapat mempengaruhi kesehatan mental.

“Banyak tantangan yang dihadapi masyarakat, salah satunya kebiasaan baru. Ketika mereka tidak terbiasa dengan kondisi itu, stres bisa timbul karena adanya penolakan. Dalam prosesnya, seseorang dapat menolak beradaptasi dengan cara baru ini dan akhirnya stres,” katanya dikutip dalam Antara.

Proses adaptasi pun diakuinya tidak akan mudah dilalui. Akan ada beberapa penolakan dari diri seseorang terhadap kebiasaan baru yang harus dilakukan di kondisi normal baru. Namun, setelah penolakan, biasanya seorang individu akan menerima hal tersebut menjadi kebiasaan baru.

Ia mengatakan, bahwa proses adaptasi ini berbeda pada tiap orang, dan tergantung pada persepsi dan kemampuan individu dalam menerima kondisi yang ada. “Butuh waktu. Ada yang mudah, ada yang sulit beradaptasi,” imbuhnya.

Baginya, melihat kesehatan mental seseorang tidak mudah karena tidak kasat mata, berbeda dengan kesehatan fisik. Namun, dalam penyembuhannya baik sakit fisik ataupun mental, sama-sama membutuhkan waktu.

“Dengan adanya new normal ini lama-lama bisa menjadi gaya hidup. Misalnya, pergi ke manapun jika ada kerumunan orang, maka kita bisa menggunakan masker. Sehabis pergi atau menyentuh barang di area publik, kita akan terbiasa mencuci tangan. Dan kita dapat terbiasa langsung mandi ketika dari luar rumah sebelum berkumpul kembali bersama keluarga,” tuturnya.

Di sisi lain, dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ, Psikiatri RS Al Irsyad Surabaya menuturkan bahwa segala perubahan yang membutuhkan adaptasi manusia bisa dikatakan sebagai stres.

New normal ini sudah tidak bisa dielakkan lagi. Namun perubahan ini diharapkan dapat membuat manusia dapat bertahan dan tetap sehat. Sehingga harapannya, stres yang ada ini diangap sebagai stres yang baik,” tandasnya.

Dengan menanggapi new normal sebagai stres yang baik, maka manusia dapat beradaptasi dengan baik terhadap perubahan. Jika sudah demikian, maka manusia dapat terhindari dari distres atau kondisi stres yang tidak baik dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Selebihnya, ia melihat bahwa ke depannya akan ada perkembangan teknologi baru yang sangat bermanfaat dalam kondisi normal baru. Karena, menurutnya dengan new normal ini ada dua sisi, baik dan buruk yang harus disikapi dengan bijak. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat