Waspada Refraksi Mata juga Menyerang Si Kecil

Rs-alirsyadsurabaya.co.id- Tak hanya pada orang dewasa, refraksi mata atau kelainan pada mata ternyata juga menyerang anak-anak.  Menurut Dokter Spesialis Mata, ada dua faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, yakni faktor genetik dan lingkungan.

Refraksi mata dapat terjadi pada siapa saja. Ada beberapa kondisi gangguan penglihatan yang perlu diketahui, diantaranya adalah rabun jauh (miopia), rabun dekat (hipermetropia), dan mata silinder (astigmatisma).

Menurut dr. Dianawati Koesoemowardani, Sp.M, Dokter Spesialis Mata di Rumah Sakit (RS) Al Irsyad Surabaya mengungkapkan bahwa refraksi mata ini merupakan kelainan mata terbanyak yang sering diderita oleh banyak orang, baik orang dewasa maupun anak-anak juga rentan mengalaminya.

“Banyak pasien yang mengeluhkan tentang kelainan refraksi mata ini, setelah itu baru katarak,” tutur wanita yang akrab disapa dr. Diana.

Anak-anak yang rentan mengalami kelainan mata ini biasanya disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan atau kebiasaan sehari-hari, lanjut dr. Diana. Anak dengan orang tua atau keluarga yang memiliki riwayat mata minus, plus, atau silinder lebih berisiko mengalami hal yang sama. Kondisi ini dapat muncul sejak lahir atau dalam usia pertumbuhan yakni 2-6 tahun. Dapat pula muncul saat anak berusia remaja atau dewasa muda.

Sedangkan pada faktor lingkungan, akibat dari perkembangan teknologi maka kebiasaan anak yang lebih cepat bersentuhan dengan alat elektronik, seperti handphone. Padahal, jika dibiasakan terus menerus maka anak akan cepat mengalami kelainan refraksi mata.

“Kalau keseringan menatap komputer, hp, atau nonton tv itu bisa menyebabkan anak jadi kena anomali refraksi, misalnya rabun jauh atau mata minus,” lanjutnya.

Jika hal itu terus menjadi kebiasaan tanpa ada jeda, dr. Diana menyatakan bahwa penglihatan anak akan mulai kabur dan kesulitan untuk menentukan posisi tepat suatu obyek yang letaknya jauh dari mereka. Inilah kenapa anak-anak ini kemudian perlu memakai kacamata.

Kelainan refraksi mata ini memang sulit dicegah, namun dapat didiagnosis melalui pemeriksaan mata, untuk kemudian diatasi dengan penanganan yang tepat. Pemeriksaan lebih dini akan lebih baik untuk mengindari gangguan penglihatan yang lebih parah.

Penggunaan kacamata menjadi pilihan sederhana dan aman untuk memperbaiki kondisi kelainan refraksi mata ini, saran dr. Diana. Hal itu agar syaraf mata berkembang dengan baik. Serta membuat penglihatan yang lebih jelas dan luas.

“Tapi yang penting adalah khususnya pada anak-anak, apabila tidak diberi kacamata maka syaraf mata tidak berkembang dengan baik. Istilahnya mata malas (ambliopia) kalau sudah ambliopia, maka walaupun diberi kacamata penglihatan tidak akan maksimal,” imbuhnya.

Dengan begitu, orang tua diharapkan lebih memperhatikan kesehatan sang buah hati. Batasi penggunaan alat elektronik pada anak, tak lupa memberikan asupan nutrisi yang bergizi. Selain itu, periksakan mata anak sejak dini bila mereka sudah merasakan gejala-gejala kelainan refraksi mata. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat