Wanita Lebih Rentan Terserang Penyakit Tiroid

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Beberapa orang tidak dapat membedakan penyakit tiroid dengan gondongan. Padahal, penyakit tiroid kini menempati urutan kedua terbanyak dalam daftar penyakit metabolik setelah diabetes mellitus, dan rentan menyerang kelompok wanita.

Lebih dari 60 persen orang terutama perempuan menderita masalah gangguan tiroid. Hampir semua penyakit autoimun lebih banyak menyerang perempuan usia produktif. Hal itu dikarenakan hormon estrogen yang membuat wanita memiliki risiko tinggi terkena gangguan tiroid.

Mengutip dari CNNIndonesia, Direktur PT. Merck, Evie Yulin mengungkapkan, bahwa Indonesia menempati posisi tertinggi di Asia Tenggara dengan sekitar 17 juta masyarakat yang terdeteksi penyakit tiroid. Sementara 6,5 persen penduduk diperkirakan hidup dengan gangguan tiroid namun tidak terdiagnosis dengan baik.

Sebagian besar penyakit tiroid tidak membahayakan penderitanya dan dapat dikendalikan melalui penanganan medis. Tetapi jika dibiarkan, terdapat risiko untuk berkembang menjadi kanker tiroid yang dapat mengancam nyawa.

Penyakit tiroid sendiri merupakan berbagai gangguan atau masalah yang terjadi pada kelenjar tiroid. Kelenjar tersebut terletak di bawah jakun yang bertugas mengatur berbagai sistem metabolisme dalam tubuh sehingga perannya sangat penting bagi manusia.

“Penyakit ini menyerang kelenjar yang menghasilkan hormon tiroid. Kelenjar yang berbentuk kupu-kupu yang berada di area leher ini memiliki banyak fungsi untuk tubuh,” ujar dr. Puspita Mayangsari, Sp. PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya.

Umumnya, lanjut dr. Mayang, pasien dengan gangguan tiroid datang dengan dua jenis keluhan. Keluhan bisa berupa benjolan atau pembesaran pada bagian leher, berdebar-debar, penurunan berat badan, serta mata yang terlihat lebih menonjol (exsoftalmus).

Gangguan pada tiroid disebabkan oleh beberapa hal seperti autoimun, radiasi dan infeksi juga dapat menyebabkan gangguan tiroid. “Ada pula faktor genetik yang diturunkan dari orang tua kepada anak,” tutur dr. Mayang.

Ini terjadi karena ibu kekurangan hormon tiroid, sehingga anak pun juga bisa kekurangan hormon tersebut. Ketika tiroid tidak berfungsi dengan baik, efek buruknya dapat berpengaruh pada kesehatan. “Misalnya berpengaruh pada gangguan metabolisme tubuh dan jantung,” tuturnya.

Bila tidak segera ditangani, maka akan timbul masalah seperti kenaikan berat badan, kecemasan, rambut rontok, nyeri otot, depresi dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali berbagai jenis gangguan tiroid, gejala, melakukan deteksi dini, serta yang paling penting, menjaga pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bernutrisi tinggi dan olahraga secara rutin. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat