Virus Corona Sebagai Pandemi hingga Jadi Kasus dengan Persentase Kematian Tertinggi di Indonesia

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Jumlah kasus orang yang terpapar virus corona yang kini telah berstatus pandemi kian meningkat. Penambahan signifikan adanya pasien positif ini terjadi per Rabu (18/3) yakni menjadi 227 orang. Tak hanya angka pasien yang melonjak, namun angka kematian juga ikut meningkat, menjadikan Indonesia  sebagai negara dengan persentase kematian tertinggi melebihi Italia.

Angka rasio kematian atau fatality rate akibat COVID-19 yang dihitung berdasarkan jumlah kematian dibandingkan dengan total kasus positif corona ini melonjak karena adanya angka kematian dari 5 orang per Selasa (17/3), menjadi 19 orang per Rabu (18/3). Sehingga rasio kematian 8,3 persen, meningkat dari hari sebelumnya hanya 4,07 persen.

Jumlah tersebut mengejutkan masyarakat, apalagi Indonesia disebut sebagai negara dengan persentase kematian tertinggi, melebihi Italia yang 8,34 persen. Namun, angka rasio kematian ini bisa berubah dari hari ke hari dengan cepat. Semakin tinggi jumlah kasus positif terdeteksi, maka angka rasio kematian bisa bertambah kecil, sebagaimana sebelumnya terjadi di Cina.

Dari keterangan Ahmad Yurianto Juru Bicara Penyebaran COVID-19 di Indonesia melalui konferensi pers daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Rabu (18/3), kini sudah ada lebih dari 1.000 spesimen yang diperiksa terkait virus Corona.

Dalam pemeriksaan spesimen tersebut tidak hanya dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI, tetapi juga bekerja sama dengan Universitas Airlangga Surabaya hingga Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Yuri pun menyatakan, bahwa kasus akan terus meningkat hingga April mendatang. “Kita akan dapat gambaran (jumlah kasus) yang semakin naik dan pada saatnya nanti kita prediksi kita mudah-mudahan tidak terlalu panjang. Kita berharap pada bulan April sudah mulai bisa melihat hasilnya dan mulai terkendali,” ujarnya.

Pemerintah sendiri juga akan menyegerakan pelaksanaan tes kilat atau rapid test COVID-19 yang mencakup lebih banyak masyarakat. Untuk itu, jumlah kasus positif diprediksi akan semakin melonjak seiring dengan pelaksanaan rapid test ini.

COVID-19, dari Wabah Jadi Pandemi

Pada Kamis (12/3) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengumumkan virus corona sebagai pandemi. Ini tidak mengubah penilaian WHO terhadap ancaman yang ditimbulkan virus corona, pun juga tidak mengubah apa yang harus dilakukan oleh Negara dalam penanganannya.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat mencatat, pandemi merupakan epidemi yang menyebar ke beberapa negara atau benua dan memengaruhi masyarakat dalam jumlah besar.

Istilah ini dikenal dalam dunia epidemiologi atau ilmu yang mempelajari pola penyebaran penyakit. Di dalam kamus epidemologi, wabah menjadi bagian paling kecil dalam penularan penyakit.

Meningkat dari wabah, epidemi menandakan jangkauan penyebaran penyakit yang lebih luas disertai penularan yang terjadi dengan cepat. Epidemi bisa berubah menjadi endemi yang umumnya menyerang satu negara, wilayah, atau benua.

“Epidemi itu terjadi di satu lingkungan terbatas atau negara saja. Sedangkan pandemic terjadi seluruh dunia atau beberapa benua,” ujar Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio dilansir dari  CNNIndonesia.

Hingga saat ini belum ada kriteria spesifik yang menentukan status pandemi. Pandemi juga tidak ditentukan oleh jumlah kasus atau kematian yang diakibatkan.

Namun, setidaknya ada tiga kriteria umum sebuah penyakit dikatakan sebagai pandemi. Pertama, virus dapat menyebabkan penyakit atau kematian. Kedua, penularan virus dari orang ke orang terus berlanjut tak terkontrol. Ketiga, virus telah menyebar ke hampir seluruh dunia. Tercatat ada beberapa penyakit pandemi yang paling mematikan sepanjang sejarah seperti cacar, campak, tipus, flu spanyol, black death, HIV/AIDS.

Kurangi Risiko COVID-19 dengan Langkah Preventif

Penyebaran patogen seperti virus Corona ini dapat dicegah jika kita mengambil langkah preventif. Menurut dr. Iwah Prestiono, Wakil Direktur Medis RS Al Irsyad Surabaya langkah preventif yang bisa dilakukan di antaranya, mencuci tangan 6 langkah sesuai standar WHO menggunakan hand wash ataupun hand rub.

Selain itu, tutup hidung dan mulut ketika batuk atau bersin menggunakan tisu atau siku dalam, dan ketika mengalami gangguan pernapasan maka gunakan masker dan segera berobat ke fasyankes terdekat, hindari bepergian ke daerah terdampak wabah, hindari menyentuh hewan hidup dengan mengunjung peternakan atau pasar hewan hidup, hindari kontak dengan pasien yang memiliki gejala gangguan pernapasan dan memasak makanan seperti daging dan telur hingga matang. (ipw/Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat