Vape Mengancam Nyawa, IDI Larang Penggunaannya

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Belakangan ini, Vape sering disebut-sebut pengganti rokok dengan klaim yang jauh lebih aman untuk kesehatan. Padahal, baik rokok maupun Vape tetap saja memiliki risiko kesehatan jika terus dikonsumsi. Karena hal ini pun, IDI turut melarang penggunaan Vape.

Dilansir dari CNN, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melarang masyarakat menggunakan Vape. Vape atau rokok elektrik ini mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. Vape terbukti memperburuk kesehatan paru-paru, jantung, pembuluh darah, otak, dan organ-organ lainnya.

“Rokok elektrik harus dilarang. Dari awal, kami sudah tegas dan dengan keras melarang penggunaan rokok elektrik karena bahaya, sama bahayanya dengan rokok konvensional,” jelas Dokter Prijo Sidipratomo, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau yang juga perwakilan IDI itu.

Pelarangan ini bukan tanpa sebab. Bermula dari banyaknya kasus penyakit paru misterius yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Penyakit misterius itu telah ditemukan sebanyak 500 kasus dengan delapan orang meninggal dunia. Berpegangan dengan data tersebut, kini AS menetapkan ini sebagai epidemi, dan sejumlah negara bagian AS sepakat untuk melarang peredaran Vape.

Kemudian, selain kesehatan paru-paru yang terancam, rokok elektrik juga berbahaya untuk kesehatan kardiovaskular atau yang berhubungan dengan pembuluh darah.

“Rokok elektrik meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 56 persen, risiko stroke 30 persen, dan jantung koroner 10 persen,” ungkap Dokter Ario Soeryo Kuncoro, perwakilan dari Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI).

Lalu, Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam (PADPI) juga tegas mendukung kebijakan untuk melarang penggunaan Vape, karena dampaknya jelas berbahaya.

Anak-anak dan Remaja juga Berpotensi Terancam Nyawanya karena Vape

Selain orang dewasa, anak-anak dan remaja yang terpapar oleh penggunaan Vape di lingkungannya juga berpotensi meningkatkan risiko beberapa penyakit. Dokter Catherine Mayung perwakilan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berpendapat bahwa Vape dapat merusak bagian otak yang berperan dalam kecerdasan.

“Sampai usia 25 tahun, bagian otak yang berhubungan dengan kebijaksanaan, perilaku, dan kecerdasan itu terus berkembang. Bagian otak ini, rentan terhadap nikotin yang ada dalam Vape. Dalam tujuh detik saja, nikotin sudah bisa sampai ke otak,” terangnya.

Berbagai elemen dari tenaga medis telah melarang penggunaan Vape, mulai dari IDI hingga IDAI. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga menyatakan dukungannya untuk pelarangan merokok baik konvensional maupun elektrik.

“Kemenkes sangat konsisten untuk pencegahan dampak rokok. Kami sudah menyurati Kementerian Perdagangan tapi tidak direspons. Kemenkes terus berupaya untuk pencegahan konsumsi rokok elektrik karena sama bahayanya,” kata Cut Putri Arianie, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.(ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat