Tidur Terlalu Lama di Masa WFH Dapat Tingkatkan Risiko Masalah Kesehatan

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) semasa pandemi pada beberapa orang bisa berarti sering menghabiskan sebagian waktu untuk tidur di sela bekerja. Padahal, ketika seseorang terlalu banyak tidur, maka akan dapat meningkatkan risiko stroke dan masalah kesehatan lain.

Dalam studi yang dipublikasi dalam jurnal Neurology, mencari hubungan antara kebiasaan tidur dan risiko stroke. Para peneliti tersebut mengamati kebiasaan tidur para partisipan dan disertai dengan pemeriksaan fisik selama 6 tahun.

Sejumlah 31 ribu partisipan tersebut merupakan orang dewasa yang tidak memiliki riwayat stroke atau masalah kesehatan lain. Selama penelitian tersebut, mereka menemukan partisipan yang tidur selama  9 jam atau lebih, mengalami peningkatan risiko stroke sebesar 23 persen dibanding mereka yang tidur 9 jam kurang.

Kemudian, pada partisipan yang menghabiskan waktu 90 menit untuk tidur siang memiliki risiko stroke sebesar 25 persen, dibandingkan mereka yang hanya menghabiskan tidur siang selama 30 menit. Lalu, pada partisipan dengan kualitas tidur yang buruk dilaporkan berisiko mengalami stroke sebesar 29 persen dibanding dengan mereka yang tidurnya cukup.

Penelitian tersebut perlu dicatat bahwa tidak dibersamai dengan indikator gaya hidup lain seperti aktivitas fisik dan pola makan partisipan.

“Dibutuhkan waktu lebih banyak untuk mengetahui dengan pasti hubungan antara waktu tidur di malam dan siang hari dengan risiko stroke,” kata Xiaomin Zhang, peneliti dari Huangzhong University of Science and Technology, dilansir dari The Independent.

Masalah Mental dan Fisik Pengaruhi Lamanya Tidur

Di sisi lain, dipaparkan oleh dr. Restie Rachmanta, M.Epid., Ahli Epidemiologi dalam jpnn, tidur terlalu lama dapat mengganggu mental dan fisik. Contohnya yakni, kondisi hipersomnia. Kondisi ini dimana seseorang merasakan kantuk berlebihan sepanjang hari dan tidak bisa berkurang hanya dengan tidur siang.

Orang-orang yang mengalami hipersomnia rentan cemas, memiliki energi yang rendah, dan masalah memori karena kebutuhan mereka yang selalu untuk tidur. Kemudian, tidur terlalu lama juga bisa dikarenakan adanya sleep apnea yang obstruktif. Gangguan ini menyebabkan orang kesulitan bernapas saat tidur hingga menyebabkan terganggunya waktu tidur.

Kemudian, dalam penelitian lain juga menemukan bahwa orang yang tidur terlalu lama cenderung memiliki kadar kolesterol jahat yang tinggi, disertai dengan lingkar pinggang yang bertambah. Dari kedua masalah ini juga diketahui bahwa tidur terlalu lama dapat berujung pada risiko stroke.

“Tidur dalam waktu lama mengindikasikan gaya hidup tidak aktif yang juga dikaitkan dengan risiko stroke,” lanjut Zhang.

Sejauh ini, untuk orang dewasa, waktu tidur yang direkomendasikan oleh para pakar hanya sekitar 7 hingga 9 jam tiap hari. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat