Tak Mengenal Usia, Kenali Gangguan Neurologis Epilepsi

Rs-alirsyadsurabaya.co.id Siapa pun dapat mengalami epilepsi, dengan kemungkinan terbanyak terjadi pada anak kecil dan orang tua. Penyakit ini pun juga lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.

Kejang epilepsi diakibatkan oleh listrik yang tiba-tiba menyerang otak seperti dijelaskan dr. Euginia Putri Permatasari Poerwadi, Sp.S. Dokter Spesialis Saraf RS Al-Irsyad Surabaya. Setidaknya terdapat 65 juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi, seperti dilansir dari Epilepsy Foundation.

Dilansir dari Healthline, epilepsi adalah kelainan kronis yang menyebabkan kejang berulang tanpa penyebab yang pasti.

Kejang ini adalah listrik yang tiba-tiba menyerang otak. Kejang epilepsi ini sendiri ada dua jenis, yaitu kejang umum yang memengaruhi seluruh otak dan kejang fokal atau parsial yang hanya memengaruhi satu otak saja. 

Kejang fokal sulit dikenali, karena berlangsung beberapa detik saja. Kejang yang lebih kuat akan menyebabkan berpengaruh pada otot yang tidak terkendali dan dapat berlangsung sampai beberapa menit. Untuk kejang yang kuat tersebut, pasien akan menjadi bingung atau kehilangan kesadaran, dan kemungkinan tidak ingat apa yang terjadi.

“Tetapi kejang otot tidak selalu diindikasikan sebagai epilepsi, ada beberapa alasan lain yang bisa menyebabkan kejang, seperti demam tinggi, trauma kepala, gula darah rendah, dan kecanduan alkohol”, imbuh dokter yang akrab disapa dr. Nonik.

Penyebab dan Gejala Epilepsi

6 dari 10 penyebab epilepsi seseorang tidak dapat ditentukan. Namun, ada beberapa penyebab epilepsi, di antaranya, cedera otak traumatis, jaringan parut di otak setelah cedera otak (epilepsi pasca-trauma), penyakit serius atau demam sangat tinggi, stroke—yang merupakan penyebab utama epilepsi pada orang di atas usia 35, dan penyakit vaskular lainnya. 

Selain itu, epilepsi juga dapat disebabkan kekurangan oksigen ke otak, tumor otak atau kista, demensia atau alzheimer, penyakit menular seperti AIDS dan meningitis. Epilepsi pun dapat diidap melalui penggunaan obat ibu, cedera pranatal, malformasi otak, atau kekurangan oksigen saat lahir. 

Kelainan genetik atau perkembangan atau penyakit neurologis, keturunan atau genetik juga memiliki peran dalam beberapa jenis epilepsi. Diagnosis epilepsi sendiri biasanya terjadi pada anak usia dini atau setelah usia 60 tahun.

Gejala epilepsi umumnya adalah kejang, namun kejang ini memiliki perbedaan berdasarkan jenisnya seperti diutarakan oleh dokter yang akrab dipanggil dr. Nonik itu. Perbedaan jenis kejang di antaranya: 

  1. Kejang Fokal (Parsial), kejang parsial tidak menyebabkan hilangnya kesadaran. Gejalanya diketahui dari perubahan pada indra perasa, penciuman, penglihatan, pendengaran, atau sentuhan, pusing, rasa kesemutan dan kedutan di anggota badan. Kejang parsial kompleks yang dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, gejalanya sebagai berupa tatapan kosong, tidak responsif, dan melakukan gerakan berulang. 
  2. Kejang Umum, kejang ini melibatkan seluruh bagian otak dan memiliki enam jenis kejang. Yang pertama, kejang petil mal yang diindikasikan dengan tatapan kosong, gerakan berulang seperti bibir kejang atau berkedip berulang-ulang. Kedua, kejang tonik berupa otot kaku. Ketiga, kejang atonik berupa hilangnya kontrol otot dan dapat terjatuh secara tiba-tiba. Keempat, kejang klonik berupa kejang di otot wajah, leher dan lengan. Kelima, kejang mioklonik berupa kejang di lengan dan kaki. Keenam, kejang tonik-klonik berupa tubuh kaku, gemetar, kehilangan kontrol kandung kemih atau usus, menggigit lidah dan hilang kesadaran. 

Mengobati Epilepsi

Pengobatan lini pertama untuk epilepsi adalah obat anti-kejang. Obat-obatan ini membantu mengurangi frekuensi dan keparahan kejang, tetapi tidak dapat menghentikan kejang yang sudah berlangsung, dan bukan obat untuk epilepsi.

Ada banyak obat anti kejang yang dijual. Namun akan lebih baik jika obat diresepkan oleh dokter. Dokter dapat meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat-obatan, tergantung pada jenis kejang yang dialami. 

Hal tersebut karena epilepsi pada setiap orang berbeda-beda, namun kebanyakan orang membaik dengan obat anti kejang tersebut. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat