Tak Disadari, Ini Bahaya Polusi Udara

Rs-alirsyadsurabaya.co.id– Polusi udara yang rutin menyapa perkotaan ternyata berdampak luar biasa bagi kesehatan. Bahayanya tak hanya berupa gangguan pernapasan, namun juga radang paru, bahkan sampai pada taraf mengurangi umur seseorang.

Polusi udara tidak sekadar ada di jalan raya atau di ruang terbuka. Beberapa contoh lain dari polusi udara adalah asap pemakaian kayu bakar ketika masak, kotoran kasur yang terhirup ketika tidur, penggunaan produk rumah tangga (semprotan berbahan gas, lem, cat warna) yang terbuat dari bahan kimia, asap rokok, dan ketika kita suka memanaskan kendaraan di dalam rumah.

Penyumbang Kematian Cukup Besar

Dikutip dari New York Times, dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh The Journal Environmental Science & Technology Letters di tahun 2018 mengungkapkan polusi udara bisa menyebabkan umur seseorang menjadi berkurang dari hitungan bulanan hingga 1,9 tahun tergantung pada area seseorang tinggal.

Dari data di atas, peneliti mengartikan polusi udara sebagai penyumbang penyakit dan kematian yang cukup besar.

“Salah satu faktor yang paling vital dalam polusi udara dapat mengurangi umur seseorang karena menyebabkan penyakit serta kematian,” ucap Joshua Apte seorang profesor dari University of Texas, Amerika Serikat.

Menurut laporan yang dikeluarkan The Lancet Commission on Polution and Health, dilansir dari cnnindonesia, polusi udara sejauh ini menjadi penyebab terbesar dibanding jenis polusi lainnya seperti polusi air.

Jika polusi air menyebabkan kematian 1,8 juta orang, maka kematian akibat polusi udara menembus hingga 6,5 juta orang pada 2015.

Hal itu didukung oleh Margaret Chan, sebagai Dirjen WHO pada laman hellosehat yang menyatakan bahwa polusi udara merupakan salah satu bahaya mematikan bagi manusia, khususnya anak-anak. Anak-anak, pada dasarnya belum punya sistem kekebalan tubuh yang kuat. Selain itu, saluran napas yang pendek, memudahkan mereka untuk menerima dampak dari bahaya polusi udara itu sendiri.

Kerusakan Fungsi Ginjal dan Saraf

Lebih lanjut Chan menyatakan polusi udara pun sangat berkaitan dengan saraf. Menurutnya, senyawa karbon monoksida yang dihasilkan polusi udara, mampu memengaruhi kadar oksigen dalam darah, di mana oksigen penting untuk melancarkan peredaran darah menuju jantung hingga sistem saraf seluruh tubuh. Akibatnya, manusia masa kini rentan terhadap kerusakan sumsum tulang, rusaknya fungsi, ginjal dan juga saraf. Intensitas dan lamanya waktu terkena paparan polusi udara, juga berpengaruh terhadap tingkat bahaya kesehatan yang diterima.

Dilansir Science Daily, studi yang dilakukan oleh Universitas Michigan dan terbit di jurnal PLOS ONE, menyoroti hubungan antara pencemaran udara dengan ginjal sebagai penyaring darah.

“Mirip dengan merokok, polusi udara mengandung racun berbahaya yang secara langsung dapat memengaruhi ginjal. Ginjal membantu mengalirkan darah, dan jika ada yang membahayakan sistem peredaran darah, ginjal akan menjadi yang pertama merasakan efek itu,” kata Jennifer Bragg-Gresham, ahli epidemiologi dari Universitas Michigan.

“Jika Anda melihat daerah yang sangat tercemar dibandingkan daerah yang kurang tercemar, Anda akan menemukan lebih banyak penyakit ginjal kronis,” dukung Rajiv Saran M.D, ahli nefrologi dan direktur Pusat Koordinasi Data Sistem Ginjal dari Universtas Michigan.

Oleh karenanya, Bragg-Gresham menghimbau untuk masyarakat tak meluputkan bahaya polusi udara dan lebih berhati-hati. “Banyak orang tidak serius dengan polusi udara karena ini bukan sesuatu yang dapat terlihat, tetapi itu bukan berarti itu tidak penting bagi kesehatan Anda,” ujarnya. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat