Sering Jadi Rujukan Atlet, Begini Fisioterapi Sport Injury RS Al-Irsyad

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Fisioterapi Sport Injury merupakan hal yang penting dilakukan dengan penganan yang juga tepat tentunya. Terutama untuk menangani para atlet profesional yang kerap kali mengikuti pertandingan.

Untuk hal itu, RS Al-Irsyad merupakan RS terpercaya yang selalu menjadi rujukan para atlet. Lalu, seperti apa sebenarnya Fisioterapi Sport Injury ini?

Terapi fisik atau fisioterapi bertujuan untuk mengembalikan fungsi tubuh setelah terkena penyakit atau cedera. Sedangkan pada fisioterapi sport injury, merupakan terapi yang dikhususkan pada cedera yang berhubungan dengan kegiatan olahraga.

Fisioterapi ini, disampaikan Angga Kurniawan P., A.Md.Fis., Koordiator Fisioterapi RS Al-Irsyad, fisioterapi ini meliputi fisioterapi pre-op yang dilakukan sebelum operasi pada bagian yang mengalami cedera, dan post-op yang dilakukan setelah operasi.

Pre-op Fisioterapi

Tujuan pre-op pada fisioterapi sport injury biasanya dilakukan saat sebelum memulai operasi pada salah satu atau beberapa dari empat ligamen pada lutut, yakni Anterior Cruciate Ligament (ACL), Medial Collateral Ligament (MCL), Posterior Cruciate Ligament (PCL), atau Lateral Collateral Ligament (LCL) yang bertujuan untuk penguatan otot.

Penguatan otot ini, bisa dilakukan dengan berbagai macam cara latihan pada otot-otot penopang lutut, seperti otot quadriceps, hamstring, dan otot-otot gluteal. Latihan ini bisa berupa latihan isometrik, isokinetik, strengthening, dan lain sebagainya.

“Tetapi jika bagian cedera mengalami nyeri dan bengkak, bisa ditambahkan modalitas TENS untuk mengurangi nyeri dan cryotherapy untuk mengurangi bengkak. Dan alhamdulilah RS Al-Irsyad sendiri mempunyai alat cryotherapy, karena tidak semua RS memiliki alat tersebut,” ungkap Angga.

Penguatan sebelum operasi ini, disampaikan Angga, dilakukan untuk menambah massa otot karena biasanya bagian cedera mengalami atrofi (otot mengecil). Dan setelah operasi, otot juga akan mengalami fase atrofi lagi karena tidak adanya gerakan. Sehingga penguatan ini penting dilakukan.

Saat atrofi pascaoperasi, maka kemudian yang dilakukan ialah fisioterapi post-op agar otot tidak semakin mengalami atrofi. “Jadi, setelah operasi sebaiknya segera dilakukan fisioterapi atau latihan,” tegas Angga.

Post-op Fisioterapi

Jangka waktu melakukan post-op, lanjut Annga, perlu dilakukan sesegera mungkin setelah anestasi hilang. Terapi post-op ini sendiri memiliki beberapa fase yang dijalani selama kurang lebih enam bulan.

Pada fase pertama, 0-2 minggu setelah operasi, merupakan terapi yang bertujuan istirahat, kontrol bengkak dan nyeri, mencegah kekakuan sendi, menambah luas gerak sendi, serta atrofi otot.

Sama halnya pada pre-op, untuk mengurangi nyeri dan bengkak bisa ditambah modalitas terapi TENS dan cryotherapy, atau dapat pula ditambahkan dengan penggunaan neuromuscular taping.

Untuk menghindari kekakuan sendi dan menambah luas gerak sendi, maka dilakukan gerak aktif lutut dan mobilisasi patella, straight leg raising, heel slide, dan lain sebagainya, serta latihan penguatan untuk mencegah atrofi otot.

Fase kedua, 2-4 minggu merupakan terapi yang bertujuan untuk meningkatkan rentang atau luas gerak sendi lutut lebih dari 90 derajat, meningkatkan kekuatan otot, latihan keseimbangan, gait training, latihan squats, sepeda statis, dan lain sebagainya. Kekuatan otot penopang perlu dipastikan telah siap pada setiap fase sebelum beranjak pada tahap selanjutnya.

Fase ketiga, 4-12 minggu terapi ditujukan untuk mencapai rentang gerakan lutut (menekuk) penuh. Meningkatkan kekuatan otot-otot paha, betis, dan otot-otot penopang lainnya. Latihan untuk aktivitas sehari-hari, dan latihan keseimbangan. Meningkatkan squats, step up, landing, leg press, dan latihan propioseptif.

Fase keempat, 12-16 minggu, terapi difungsikan untuk meningkatkan kekuatan fungsional dan keseimbangan, mengembalikan sisa gerakan yang hilang, yang dapat mencegah perkembangan fungsional, persiapan untuk kembali ke aktivitas atau ke olahraga (turn to sport). Seperti treadmill, berenang, agility ladder, hurdles training, plyometric exercise, dan lain-lain.

Yang membedakan fase keempat dari fase sebelumnya adalah level kelincahan yang semakin ditingkatkan. “Jadi, kalau pada fase ketiga merupakan tingkatan level 1-2, sedangkan fase ini adalah fase level 3-5,” papar Angga.

Selanjutnya pada fase kelima, yakni terapi 16 minggu setelah operasi hingga olahraga penuh. Terapi pada fase ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan yang lebih spesifik pada latihan untuk meningkatkan agility, propioseptif, plyometric, speed, change direction, dan lain sebagainya.

Fase ini memungkinkan atlet bertanding di sebuah pertandingan kecil dengan alat olahraga, seperti jika ia atlet sepak bola, maka gerakan dengan bola sepak, atau bola basket jika pasien merupakan atlet basket.

Pada setiap fase terapi ini dilakukan di Gymnasium RS Al-Irsyad dengan ruangan yang luas dan peralatan penunjang yang lengkap. Angga menambahkan, setiap fase pada post-op rekontruksi ligamen ini dapat dilalui tergantung pada keadaan pasien.

“Ada pasien yang cepat, ada yang sedang, dan ada juga yang lama, tergantung kondisi pasien. Dan semua proses kurang lebih dilalui selama enam bulan,” imbuhnya.

Fisioterapi Sport Injury RS Al-Irsyad sendiri hingga sampai saat ini telah banyak menangani atlet berabagai cabang olahraga mulai dari atlet klub daerah hingga nasional (Liga 1), hingga membantunya kembali turun bermain ke lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat