RS Al Irsyad Surabaya

Sering Haus dan Sering Buang Air Kecil? Waspadai Diabetes Insipidus

Sering merasa sangat haus dan buang air kecil terus-menerus? Meski terdengar mirip dengan gejala diabetes melitus, kondisi ini bisa jadi tanda diabetes insipidus, gangguan hormon yang memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan fungsi ginjal.

Diabetes insipidus adalah kondisi yang relatif langka, namun penting untuk dikenali karena berdampak langsung pada keseimbangan cairan tubuh. Tidak seperti diabetes melitus yang terkait gula darah, diabetes insipidus terjadi karena gangguan pada hormon antidiuretik (antidiuretic hormone/ADH) atau vasopresin hormon yang membantu ginjal mengatur jumlah air dalam tubuh.

Apa Itu Diabetes Insipidus?

Diabetes insipidus adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu menahan air dengan baik, sehingga ginjal mengeluarkan urine dalam jumlah yang sangat banyak. Sementara orang sehat umumnya menghasilkan sekitar 1–3 liter urine per hari, penderita diabetes insipidus dapat menghasilkan hingga puluhan liter urine dalam hari yang sama.

Hormon ADH diproduksi di hipotalamus dan disimpan di kelenjar pituitari di otak. Ketika tubuh kekurangan ADH atau ginjal tidak meresponnya dengan benar, air tidak diserap kembali ke dalam darah dan justru hilang melalui urine.

Gejala Utama Diabetes Insipidus

Beberapa gejala yang paling sering dialami oleh penderita diabetes insipidus antara lain:

  • Rasa haus yang sangat berlebihan dan hampir tidak terpuaskan
  • Frekuensi buang air kecil meningkat drastis
  • Volume urine yang sangat besar dengan warna yang sangat jernih
  • Terbangun di malam hari berkali-kali untuk buang air kecil
  • Kelelahan dan gangguan tidur karena sering ke kamar mandi

Pada anak-anak, gejala lain yang mungkin muncul termasuk kesulitan tidur, pertumbuhan lambat, berat badan turun drastis, serta mudah marah atau tidak nyaman.

Penyebab Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebabnya:

1. Central (Sentral)

Terjadi ketika produksi hormon ADH tidak mencukupi karena kerusakan di otak, misalnya akibat tumor, cedera kepala, operasi, atau gangguan autoimun.

2. Nephrogenic (Ginjal)

Ginjal tidak dapat merespon hormon ADH meskipun hormon tersebut cukup tersedia. Penyebabnya bisa karena gangguan genetik, efek obat tertentu, atau ketidakseimbangan elektrolit.

3. Gestasional

Tipe yang jarang terjadi pada wanita hamil, di mana plasenta menghasilkan enzim yang mempercepat pemecahan hormon ADH.

4. Dipsogenik

Berhubungan dengan gangguan pada pusat rasa haus di otak yang membuat seseorang terus merasa haus dan minum banyak air.

Diagnosis dan Pemeriksaan

Untuk mendiagnosis diabetes insipidus, dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti:

  • Tes darah dan urine untuk melihat kadar cairan dan fungsi ginjal
  • Tes deprivasi air untuk melihat respon tubuh ketika asupan cairan dibatasi
  • Pemeriksaan MRI untuk mengevaluasi struktur otak dan kelenjar pituitari
  • Pemeriksaan hormon ADH untuk mengetahui keseimbangan hormon

Diagnosis yang tepat penting karena gejala diabetes insipidus bisa mirip dengan kondisi lain yang juga menyebabkan sering buang air kecil atau rasa haus berlebihan.

Penanganan dan Terapi

Penanganan diabetes insipidus berbeda tergantung jenisnya:

  • Diabetes insipidus sentral: Dokter biasanya memberikan desmopressin, bentuk sintetis hormon ADH, yang bisa diberikan melalui semprotan hidung, tablet, atau suntik.
  • Diabetes insipidus nefrogenik: Biasanya tidak merespon desmopressin. Perawatan fokus membantu ginjal bekerja lebih efisien, seperti diet rendah garam dan penggunaan obat tertentu.
  • Gestasional: Penggunaan desmopressin aman selama kehamilan untuk membantu menurunkan jumlah urine berlebih.
  • Dipsogenik: Perawatan lebih diarahkan pada penyebab rasa haus yang berlebihan, termasuk dukungan psikologis bila perlu.

Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes insipidus dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit, pusing, kelelahan ekstrem, hingga komplikasi serius lain seperti gangguan fungsi organ.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala seperti sering haus tak terkendali, frekuensi buang air kecil yang drastis, atau gangguan tidur karena keinginan buang air kecil. Deteksi dini membantu menentukan jenis diabetes insipidus dan penanganan yang tepat untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Diabetes insipidus adalah kondisi langka namun serius yang memengaruhi kemampuan tubuh mengatur cairan, terutama karena gangguan hormon antidiuretik. Membedakannya dari diabetes melitus penting karena penyebab, gejala, serta penanganannya berbeda. Pemeriksaan medis dan penanganan yang tepat termasuk terapi hormon, diet, serta perawatan dukungan dapat membantu mengendalikan gejala dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi berat.

Tim Redaksi

Menyajikan informasi seputar kesehatan, tips medis, dan layanan rumah sakit Al Irsyad Surabaya. Konten ditulis oleh tim profesional dengan dukungan tenaga medis berpengalaman.