RS Al-Irsyad Surabaya Ajak Masyarakat Bersama-sama Hentikan Penularan COVID-19

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Kamis (28/5), Rumah Sakit Al Irsyad Surabaya kembali mengudara bersama Suara Muslim Radio Network. Pada gelar wicara hari ini, RS Al Irsyad Surabaya hendak mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghentikan rantai penularan COVID-19.

Bersama dr. Arief Bakhtiar, Sp.P, dalam gelar wicara kali ini membincang mengenai kondisi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah diberlakukan. Menurut Dokter Spesialis Paru RS Al Irsyad Surabaya tersebut, meski pedoman dari pemerintah sudah jelas tentang apa saja yang dilarang dan boleh dilakukan oleh masyarakat, namun pada pelaksaannya masih bertentangan.

Penularan virus korona yang hingga Sabtu (30/5) telah menyebabkan hampir 6 juta orang di dunia dan lebih dari 25.000 orang di Indonesia terkena Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) dengan cepat menyebar melalui kontak dekat dengan seseorang yang mungkin saja menjadi carrier virus.

“Tanpa sadar, saat bicara, saat batuk, kalau droplet-nya mengenai kita, ya kita akan terkena,” ungkapnya.

Menurut data yang ada, lanjut dr. Arief, memang secara persentase mortalitas akan pandemi virus ini tidak terlalu tinggi. Meski begitu, ia tetap menegaskan bahwa angka penyebarannya besar, yang berarti menandakan bahwa jangkauan virus ini semakin meluas.

“Jadi, meski disebutkan angka mortalitas hanya 6-8 persen, tapi kalau yang terkena (faktor pengali) banyak, maka hasil korban jiwa pun banyak. Wallahu ‘alam bisa virus itu datang pada kita atau anggota keluarga kita yang lain,” paparnya.

dr. Arief menegaskan agar masyarakat tidak meremehkan virus ini hanya dengan melihat dari angka mortalitas yang rendah. Meski dr. Arief mengakui, bahwa angka positif kasus COVID-19 menurutnya masih sangat minim.

Karena, menurut pengamatannya di lapangan, ia sering menemukan kasus di mana pasien yang ternyata positif COVID-19 meninggal terlebih dahulu, sementara hasil tes yang menyatakan pasien tersebut positif baru muncul beberapa hari kemudian. “Nah, kasus-kasus seperti itu tidak dimasukkan dalam hitungan,” imbuhnya.

Berkaca dari hasil lapangan yang ia temui, maka dr. Arief sangat menyarankan agar orang-orang tetap menjalankan prinsip Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Ya seperti menggunakan masker dengan benar dan rajin mencuci tangan,” ungkapnya.

Dengan menjalankan prinsip PHBS, maka rantai penularan COVID-19 dapat ditekan. Jika hal ini kendor dan luput dari perhatian masyarakat, maka dapat berpotensi pada semakin meluasnya penyebaran dan semakin banyak memakan korban.

Kemudian, ia juga menerangkan bahwa penularan virus korona ini umumnya melalui dua jalur, yakni jalur penularan langsung dan tidak langsung. Penularan secara langsung tersebut, yakni jika seseorang dengan sengaja atau tidak tertempel droplet dari orang lain yang menjadi carrier virus korona.

“Bisa juga secara tidak langsung. Misalnya, ada seseorang yang positif terinfeksi dan batuk atau bersin. Kemudian, droplet menempel di benda-benda di sekitarnya. Jika selanjutnya ada orang lain yang tidak sengaja menyentuh benda tersebut maka orang itu akan sangat berisiko terinfeksi,” katanya.

“Maka dari itu, selain mengikuti protokol menggunakan masker ketika di luar rumah dan rajin mencuci tangan, bersihkan juga area-area yang sering kita sentuh seperti, meja, gagang pintu, gagang pagar, pintu mobil, bahkan handphone,” tandas dr. Arief.

Langkah-langkah sederhana tersebut, dinilai sangat membantu dalam menekan penyebaran virus korona. Karenanya, dr. Arief bersama RS Al Irsyad Surabaya kembali mengimbau betapa pentingnya menjalankan prinsip PHBS demi menekan penyebaran virus korona. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat