Risiko Tinggi Penularan COVID-19 pada Anak, Pemeriksaan Sedini Mungkin Harus Diprioritaskan

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Risiko penularan COVID-19 pada anak cukup tinggi, terutama bila tidak mendapat pengawasan dari orang tua. Penerapan new normal terhadap anak pun juga perlu diperhatikan, terutama dalam upaya kebutuhan dasar anak sebagai upaya pencegahan penularan virus tersebut.

Merujuk pada data sebaran COVID-19 di Indonesia yang dilansir pada laman covid19.go.id per 24 Mei 2020, pasien positif virus korona jenis baru untuk kategori usia 0-5 tahun diketahui mencapai 2 persen, kemudian untuk kategori usia 6-17 tahun adalah sebanyak 5,45 persen.

Bahkan, menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman B Pulungan angka kasus anak di atas dapat semakin meningkat jika dilakukan tes swab dan penelusuran kontak langsung (contact tracing) yang lebih masif dalam kasus COVID-19. “Mungkin lebih banyak dari data tersebut, itulah mengapa orang tua perlu mengawasi anak karena penularannya mudah,” ungkapnya.

Dengan demikian, Aman meminta masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi anak, sebab COVID-19 tak hanya menyerang kategori lanjut usia namun juga berisiko tinggi penularan pada anak, “Ada kegiatan di luar rumah yang rawan menularkan ke anak, maka perlu pengawasan,” ujarnya, Minggu (24/5).

Ia juga menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara imunitas anak dengan orang dewasa. Selama ini penularan virus korona dianggap hanya rentan menyerang orang usia lanjut. Padahal, tidak ada jaminan yang pasti bahwa kondisi serupa tidak terjadi pada anak-anak.

“Sama saja ya kalau bicara imunitas, tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap COVID-19,” ungkapnya.

Mengingat Indonesia saat ini akan bersiap terapkan new normal atau normal baru, Aman pun mendesak pemerintah supaya lebih memperhatikan upaya penerapan normal baru tersebut terhadap anak, terlebih dalam upaya memerhatikan kebutuhan dasar anak.

“Tatanan kehidupan normal harus disusun sesuai dengan kebutuhan dasar anak, bukan sebaliknya,” tutur Aman dilansir dari cnnindonesia.com.

Perawatan yang dilakukan pada anak juga memerlukan metode khusus, tidak seperti pasien dewasa, lanjut Aman. Selama ini, tes hanya dilakukan pada anak yang menunjukkan gejala berat penyakit COVID-19. Sementara untuk anak yang bergejala ringan dilakukan perawatan di rumah.

“Menghadapi pasien anak kan tidak mudah, terutama masalah psikologis, perawatan pada anak tidak hanya dengan pengobatan mandiri, tapi lebih baik ditemani dengan orang tuanya melakukan isolasi,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pemerintah juga perlu memprioritaskan pemeriksaan pada anak sejak dini dengan menggunakan metode swab test maupun real time PCR pada sebanyak 90 juta jumlah anak di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk memberikan perawatan yang tepat agar anak dapat cepat sembuh.

Selain itu, penelusuran kontak pada anak mesti lebih masif mengingat mobilitas anak yang tinggi saat bermain di luar rumah. Di sisi lain, tindakan tersebut juga sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan wilayah bebas COVID-19, sehingga aktivitas posyandu yang sempat terhenti bisa kembali dimulai.

“Imunisasi harus tetap berjalan, untuk membuka posyandu perlu clearing area, untuk itu tes PCR dan tracing pada anak perlu lebih masif,” ujarnya.

Dari data yang dimiliki pemerintah pusat, per Minggu (24/5), jumlah pasien kategori 0-5 tahun mencapai 1,2 persen dari total kasus positif yang sudah sembuh. Sementara itu, untuk kategori usia 6-17 tahun mencapai 3,6 persen.

Sedangkan untuk angka fatal di kategori usia 0-5 tahun memiliki persentase 0,8 persen meninggal. Sementara kategori 6-17 tahun mencapai 0,6 persen. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat