Puasa, Menyehatkan Otak dan Memperbaiki Mental

Rs-alirsyadsurabaya.co.id– Tak hanya untuk melatih mengendalikan hawa nafsu dan belajar bersyukur, ibdah puasa ternyata mendatangkan banyak manfaat kesehatan. Mulai mengurangi serangan epilepsi, melindungi penuaan otak, menurunkan berat badan hingga membuat bahagia.

Fakta ini tentunya menepis anggapan umum bahwa puasa sama artinya dengan membatasi asupan gizi untuk tubuh yang memungkinkan berdampak buruk bagi tubuh dan kesehatan.

Sebagai umat muslim, kita dapat melakukan puasa apa saja selama ada tuntunan yang menjelaskan. Puasa  Nabi Daud misalnya, puasa Senin-Kamis, ataupun puasa wajib bulan Ramadhan.

Allah subhanahu wa ta’ala berjanji akan memberikan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: “Berpuasalah maka kamu akan sehat.”

Di sisi kesehatan, puasa memang mendatangkan banyak manfaat, mulai dari untuk kesehatan otak, hingga terbukti membuat orang lebih bahagia. Simak penjelasannya berikut.

Puasa, Memberi Makanan untuk Otak

Mark Mattson, kepala kepala laboratorium ilmu saraf di National Institute of Aging di Baltimore, memiliki kegemaran lari lintas alam dan melewatkan makan. Dia berbicara tentang diet ketagonik. Yakni, diet tinggi lemak, cukup protein, dan rendah karbohidrat. Diet tersebut dapat mengurangi serangan epilepsi dan meningkatkan kemampuan memori.  

“Di laboratorium, kami coba memahami mengapa diet ini baik untuk neuron. Salah satunya, karena tersedianya glukosa sebagai bahan bakar alternatif,” kata Mark dalam cnnindonesia.

Karena meringankan stres oksidatif, puasa dapat meningkatkan kemampuan sel-sel saraf untuk memperbaiki kerusakan oksidatif pada DNA. Termasuk melindungi penuaan otak yang disebabkan oleh Parkinson dan penyakit Alzheimer.

Puasa, Menurunkan Berat Badan dan Glukosa

Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan.

Studi yang dilansir oleh Kompas ini menunjukkan hasil bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan.

Puasa, Membuat Orang Lebih Bahagia

Seperti dikutip dari NBC News, menurut seorang psikologis Susan Jones, terlibat dalam kegiatan dan tradisi selama berpuasa dapat membantu keluarga dan kerabat menjadi lebih dekat satu sama lain. Ini dapat membantu mereka yang menderita kondisi khusus seperti depresi.

Selain itu, setelah menjalani puasa selama beberapa hari, manfaat puasa bagi kesehatan mental juga akan lebih terasa karena tubuh akan menghasilkan kadar hormon endorfin yang lebih tinggi dari biasanya. Ini dapat membantu meningkatkan konsentrasi serta membuat seseorang merasa lebih baik dan bahagia secara mental.

Hal serupa dilansir oleh Kompas, bahwa terdapat seorang peneliti di Moskow yang melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia.

Ternyata dengan berpuasa, sekitar 65% ditemui terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

Lebih dari itu, hal yang patut kita tanamkan adalah manfaat untuk lebih dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan ibadah sunnah seperti berpuasa. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat