Protokol Kesehatan Penting Diperhatikan Sebelum Putuskan Kembali Buka Tempat Ibadah

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Pemerintah telah menetapkan new normal di situasi pandemi, sehingga aktivitas di beberapa tempat, termasuk tempat ibadah pun dibuka. Namun setelah itu, justru terdapat laporan bahwa ada jemaah yang terpapar COVID-19. Karenanya, sebelum memutuskan untuk membuka kembali, ada protokol yang harus diperhatikan.

Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB LINMAS) menginstruksikan 20 tempat ibadah di Surabaya yang terdiri dari 16 masjid dan 4 gereja untuk tidak melaksanakan kegiatan ibadah. Pasalnya, di tempat ibadah tersebut ditemukan sejumlah pasien yang terkonfirmasi positif COVID-19.

Dalam Ranah Publik siaran radio Suara Muslim Surabaya pada Senin (15/6), Dr. dr Kohar Hari Santosa, Sp.An, KAP,KIC selaku Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas COVID-19 Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa dengan adanya pemberitaan tersebut, sebaiknya masyarakat perlu memperhatikan langkah-langkah yang harus dilakukan agar tidak terjadi peluang penularan.

“Meskipun PSBB sudah berakhir, bukan berarti virus korona ini sudah hilang. Sehingga jangan ada kegembiraan yang berlebihan dan membuka kembali semuanya tanpa protokol kesehatan yang tepat,” ujarnya.

Dalam pemantauan yang sudah dilakukan oleh dr. Kohar bersama tim, memang tidak semua masjid ditemukan kasus tersebut, tetapi terlihat bahwa protokol kesehatan yang diterapkan belum memadai, sehingga langkah pencegahan yang diambil adalah menutup masjid terlebih dahulu. Pengurus masjid, harus mengoreksi dulu hal-hal itu agar potensi penyebaran lebih jauh tak terjadi lagi.

Kesiapan Protokol Kesehatan dan Masyarakat yang Tertib

Jika memperhatikan kurva perkembangan jumlah positif COVID-19, memang akan lebih baik bila menunggu kurva landai terlebih dahulu sebelum membuka tempat ibadah, tetapi dr. Kohar menjelaskan, bahwa hal ini tidak bisa diterima begitu saja oleh masyarakat. Mereka sudah banyak yang rindu untuk beribadah berjemaah di masjid.

Mengingat hal tersebut, bila tempat ibadah dibuka tanpa persiapan, maka yang ada akan membahayakan dan berisiko penyebaran lebih luas, sehingga yang harus dilakukan adalah memperhatikan dua hal, yaitu selain kesiapan protokol kesehatan yang tepat, juga masyarakat yang tertib mematuhi protokol tersebut.

“Yang harus diutamakan itu adalah penerapan protokol kesehatan. Namun hal ini juga membutuhkan kedisiplinan dari semua orang, baik pengurus masjid maupun jemaah, sebab bisa saja ada yang tidak tertib dan disiplin maka itu bisa menjadi sumber masalah,” paparnya.

Penerapan protokol kesehatan di masjid dapat dilakukan dengan menyiapkan alat pengukur suhu, tempat cuci tangan, tempat wudhu terpisah, menggulung karpet, memberikan jarak pada shaf, dan tak lupa untuk memakai masker, serta tetap memperhatikan jarak fisik antar jemaah.

Dengan demikian, takmir masjid harus berperan penting dan menyikapi hal tersebut dengan baik. Takmir harus menjamin dan memastikan bahwa protokol kesehatan berlangsung dengan benar dan jamaah bisa mematuhinya maka tempat ibadah pun bisa dibuka kembali.

Tetapi jika tidak yakin dengan hal tersebut, maka langkah yang baik adalah menutup masjid hingga batas waktu yang ditentukan agar tak malah menjadikan masjid sebagai sumber penularan penyakit.

Selain itu, dr. Kohar juga menyampaikan, masjid yang membuka kembali aktivitas ibadahnya, harus mengetahui perilaku dan karakter jemaahnya, sehingga bisa mengedukasi agar tertib menjalankan protokol kesehatan.

“Lebih baik lagi bila jemaah yang datang itu homogen atau merupakan penduduk asli wilayah tersebut, yang kenal satu sama lain. Itu biasanya ada pada masjid-masjid yang letaknya dalam satu wilayah, seperti perumahan atau desa. Sedangkan bila melihat masjid-masjid yang terletak di jalan besar yang jemaahnya adalah heterogen atau orang asing yang tidak satu daerah, dan tidak tahu asal usulnya, nah ini menjadi risiko,” jelas dr. Kohar.

dr. Kohar berharap, jangan ada penyebaran kasus lebih luas lagi, terutama di kalangan Muslim, sehingga tempat ibadah yang dibuka kembali perlu diperhatikan betul tentang risiko penularan pada situasi pandemi saat ini.

Memang risiko itu akan terkurangi jika melakukan protokol kesehatan dengan baik, namun ketika semua orang, baik itu takmir masjid maupun jemaah masih belum yakin, maka jangan terburu-buru untuk membuka kembali tempat ibadah tersebut.

“Ini sebagai peringatan bagi kita semua bahwa ada penambahan yang masih cukup signifikan yang terjadi di masyarakat sehingga kita sebagai warga Jawa Timur, terutama Surabaya harus turut melakukan upaya-upaya agar tidak terjadi penyebaran lebih jauh lagi,” tutupnya. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat