Prademensia Dapat Terdeteksi Lewat Indera Penciuman

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Seseorang perlu waspada terhadap sindrom demensia, karena dapat menurunkan kemampuan fungsi otak. Untuk mencegah hal itu, terdapat salah satu cara mendeteksi prademensia, yakni melalui indera penciuman.

Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun. Penderita akan mengalami depresi, perubahan suasana hati dan perilaku, kesulitan bersosialisasi, hingga berhalusinasi. Penderita tidak mampu hidup mandiri dan memerlukan dukungan orang lain.

Salah satu cara mendeteksi risiko prademensia pada seseorang adalah dengan melakukan pemeriksaan saraf penciuman. Dokter spesialis saraf Atma Jaya, Dr dr Yuda Turana, SpS, mengatakan bahwa pemeriksaan dilakukan menggunakan aroma yang familiar dengan kondisi lingkungan pasien.

Ada 10 aroma yang biasanya digunakan oleh dokter di Indonesia untuk mendeteksi prademensia antara lain, kayu putih, kopi, jeruk, cokelat, kapur barus, tembakau, mentol, pandan, dan minyak tanah.

Pasien dibolehkan mencium aroma dua kali selama lima menit sebelum menjawab pertanyaan, “Syaratnya, pasien tidak sedang dalam kondisi flu, dan tidak bersin-bersin. Bila pasien tidak mampu mengidentifikasi jenis aroma tersebut, maka kemungkinan besar ada sesuatu (prediktor demensia),” jelasnya dilansir dari Republika.

Penelitian Enhancing Diagnostic Accuracy of MCI in the Elderly pada 2014 yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Kedokteran Atma Jaya menunjukkan skor rendah pada pemeriksaan saraf penciuman menjadi prediktor prademensia.

Prademensia atau mild cognitive impairment (MCI) adalah titik krusial deteksi demensia. Apabila gejala demensia terdeteksi di masa prademensia, maka penanganan dan pencegahan masih bisa dilakukan. Tetapi, jika lewat dari masa prademensia, alias sudah masuk tahap demensia, akan sulit untuk sembuh bagi si penderita.

Hal yang bisa dilakukan adalah pemberian obat demensia untuk memperlambat progres penurunan fungsi kognitif.

Sebanyak 109 subjek berusia 54-64 tahun terlibat dalam penelitian tersebut. Hasilnya pun menunjukkan jika kemampuan indera penciuman partisipan berkurang, maka diprediksi 80 persen dapat mengalami kemunduran ingatan dan kognitif lainnya.

Partisipan yang mengalami kemunduran indera penciuman diikuti respons pupil mata yang hipersensitif, juga berpeluang 90 persen mengalami kemunduran kognitif.

Selain melalui pemeriksaan indera penciuman, individu perlu menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh (medical checkup) dalam konteks penuaaan otak, sebaiknya mereka yang sudah berusia 40 tahun sudah melakukannya.

“Setiap orang saat usia 40 tahun sebaiknya sudah pernah melakukan medical checkup atau umur yang lebih muda namun dengan faktor risiko misalnya obesitas, diabetes,” tutupnya. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat