Pentingnya Peran Nutrisi Bagi Tumbuh Kembang Anak

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Masih banyak orang tua yang menganggap asupan bayi diberikan untuk mengisi perut agar mereka kenyang saja, tanpa memedulikan komposisi nutrisinya. Padahal, peran nutrisi begitu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan otak anak.

dr. Nurita Alami Dwi Wijayanti, Sp.A menyampaikan peran nutrisi dalam siaran radio bersama Suara Muslim Surabaya pada Sabtu (21/11). Menurutnya, nutrisi adalah salah satu aspek yang memang harus dipenuhi.

Ada istilah seribu hari pertama kehidupan, yakni sejak bayi berada dalam kandungan hingga berusia 2 tahun merupakan masa krusial dimana perkembangan otak anak mencapai 80 persen volume otak orang dewasa. Sehingga hal utama yang mendukung untuk pertumbuhan otak tersebut adalah nutrisi.

Dokter yang akrab disapa Nurita ini juga menjelaskan, jika dalam pediatri, ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi, antara lain yang pertama adalah asuh, meliputi pemberian nutrisi, imunisasi, pemenuhan lingkungan yang baik dan sehat untuk anak-anak, “Jadi segala yang dibutuhkan oleh anak untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosionalnya,” ujarnya.

Selanjutnya adalah kebutuhan asih, yakni bagaimana orang tua dan anggota keluarga lainnya memberikan kasih sayang kepada anak. Setelah itu, ada kebutuhan asa, yaitu stimulasi, tentang bagaimana orang tua memberikan stimulasi yang tepat bagi anak-anaknya.

“Sehingga pemberian nutrisi ini merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Ada baiknya jika dimulai sejak dalam kandungan. Pastikan ibu hamil mendapat asupan nutrisi yang kuat dan bagus. Dan jaga agar tidak terkena anemia, sebab hal ini akan berpengaruh pada si bayi,” jelas dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit Al Irsyad Surabaya ini.

Tiga Fase Pemberian Nutrisi Pada Bayi

Ketika bayi sudah lahir, dr. Nurita menyampaikan jika akan dibagi menjadi 3 fase. Pertama adalah pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif di usia 0 hingga 6 bulan, yaitu memberikan ASI saja tanpa ditambah dengan sumber cairan atau makanan yang lain termasuk susu formula atau pisang.

Kemudian usia 6 bulan hingga 2 tahun, adalah fase Makanan Pendamping ASI (MPASI). Disebut pendamping karena ASI masih diperlukan hingga anak berusia 2 tahun, namun karena asi sudah tidak cukup dalam hal komposisinya antara makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (Zat Besi, Vitamin, dll) sudah berkurang, maka harus dilengkapi dengan makanan pendamping.

“Lepas dari dua tahun, harapannya fase ini anak-anak dapat mandiri sudah bisa makan seperti orang dewasa. Jadi makanan utama bukan lagi susu, melainkan nasi,” paparnya.

Dr. Nurita pun menyebut jika sebagian orang tua masih beranggapan salah bahwa makanan diberikan agar anak kenyang dan tidak menangis. Padahal sebetulnya ada tahapan ketika memulai MPASI.

Pada usia 6 sampai 8 bulan porsi susu dan makanan pendamping lebih dominan susu, perbandingannya antara 70 persen dan 30 persen. Sedangkan memasuki usia 9 bulan hingga 11 bulan, perbandingan meningkat menjadi keduanya 50 persen. Dan di atas 11 bulan hingga 2 tahun, makanan pendamping lebih dominan daripada susu.

“Cukup berikan makanan pendamping sesuai dengan usia anak secukupnya, dimulai dari 2 hingga 3 kali sehari. Ikuti kemauan anak, asalkan tetap dalam pantauan bahwa asupan yang diterima anak sudah sesuai dengan kebutuhannya,” tutup dr. Nurita. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat