Pentingnya Pengaturan Gaya Hidup untuk Menekan Risiko Kanker

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Satu dari enam kematian di dunia disebabkan oleh kanker. Kanker telah menjadi pembunuh teratas sepanjang tahun. Di Indonesia, kanker paru-paru, payudara, dan serviks uteri sendiri menjadi jenis kanker yang paling banyak diderita. Apakah penyebabnya? Tak ayal adalah pola hidup kita yang masih berisiko tinggi menyebabkan kanker itu sendiri.

Kanker menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak di Indonesia setelah jantung dan stroke. Kementerian Kesehatan menyebut jenis kanker yang paling yang paling banyak ditemui dan menyerang, baik pria, perempuan dan anak-anak di antaranya adalah kanker serviks, kanker payudara, kanker darah, kanker paru, dan kanker usus.

Kanker dapat dipahami secara sederhana sebagai perubahan sel normal tubuh menjadi sel tumor. Sel tumor berkembang tidak terkendali dan akan menyerang sel-sel normal yang lain. Perubahan ini merupakan hasil dari interaksi faktor genetik manusia dengan karsinogen yang berasal dari luar.

Karsinogen sendiri dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu karsinogen fisik, kimia, dan biologi. Karsinogen fisik misalnya adalah radiasi ultraviolet dan ionizing. Karsinogen kimia seperti asbes, komponen dalam tembakau, aflatoxin, dan arsenik. Sementara karsinogen biologi seperti infeksi dari virus, bakteri, atau parasit.

Untuk mencegah kanker tumbuh dalam tubuh, dr. Salim Ubaid dokter umum yang merupakan Manajer Pelayanan Medis RS Al-Irsyad Surabaya pun menjelaskan, bahwa langkah yang dapat diambil adalah dengan meminimalisir diri dari paparan karsinogen itu sendiri. “Misalnya dengan menghindari paparan sinar matahari, memperhatikan asal dan pemrosesan bahan makanan, serta melakukan vaksinasi,” tuturnya.

Studi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri membuktikan, sepertiga kematian karena kanker juga dilatarbelakangi oleh berat badan berlebih, kurangnya konsumsi sayur dan buah, konsumsi tembakau dan alkohol, serta jarang berolahraga.

“Untuk itu, gaya hidup penting diperhatikan karena gaya hidup yang buruk turut menyumbang risiko kanker. Menghidari zat-zat yang bersifat memicu kanker pun dapat dilakukan dengan strategi pengaturan gaya hidup,” kata dr. Salim.

Kebiasaan Memasak Makanan

Kebiasaan pemrosesan makanan dengan digoreng atau dibakar dalam gaya hidup masyarakat Indonesia salah satunya, membuat makanan yang dikonsumsi terpapar oleh zat karsinogen. Pemrosesan makanan yang terlalu lama juga semakin menghilangkan kandungan gizi dalam makanan.

Riset ilmiah yang dirangkum dalam artikel Chemicals in Meat Cooked at High Temperatures and Cancer Risk yang dipublikasikan oleh National Cancer Institute seperti dilansir dari laman Kompas.id menjelaskan, bahan kimia yang bersifat mutagenik atau dapat mengubah DNA yang meningkatkan risiko kanker dapat terbentuk ketika daging otot sapi, babi, ikan, atau unggas dimasak pada suhu yang tinggi.

Paparan zat pemicu kanker ini biasanya dapat ditemukan pada proses pembakaran daging yang langsung di atas bara api, penggorengan makanan dengan minyak yang terlalu lama, dan kebiasaan menghangatkan makanan berulang-ulang.

Pentingnya Memperhatikan Asupan Gizi

Asupan gizi yang tidak seimbang dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan obesitas yang keduanya merupakan faktor risiko kanker. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2018, hampir separuh masyarakat berusia di atas 18 tahun berstatus gizi tidak normal.

Asupan nutrisi yang melebihi kebutuhan tubuh akan menumpuk menjadi lemak dan dapat memicu obesitas. Selain itu, konsumsi karbohidrat simpleks yang mudah diserap dapat menaikkan kadar glukosa darah dengan cepat yang dapat menimbulkan gangguan resistensi insulin.

Kebiasaan Berolahraga

Jenis aktivitas fisik agar tubuh sehat, bugar, dan terhindar dari penyakit terutama kanker bisa sangat beragam. Durasi ideal dalam berolahraga biasanya disesuaikan dengan ringan atau beratnya jenis latihan yang dipilih. Departemen Kesehatan Amerika Serikat sendiri menyarankan untuk berolahraga 150-300 menit latihan sedang per minggu untuk orang dewasa. Durasi tersebut setara dengan aktivitas fisik selama 40 menit dalam sehari.

Selain memperhatikan asupan makanan, waktu istirahat, dan aktivitas fisik, ada satu kebiasaan yang justru harus dihindari. Asap menjadi salah satu karsinogen terburuk yang memengaruhi mutasi sel. Asap kendaraan, asap dari aktivitas rumah tangga, dan tidak terkecuali asap rokok.

Meski menjadi kebiasaan individu, namun perokok aktif berpotensi memberikan dampak negatif bagi orang lain yang tidak merokok. Tak pelak, kesadaran pada risiko kanker harus diserukan secara komunal. Perubahan gaya hidup dari satu orang saja masih belum cukup untuk menekan risiko terjangkit kanker. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat