New Normal, Perhatikan Kekeliruan Berolahraga Berikut dan Bagaimana Aturan Tepatnya

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Di masa transisi menuju kenormalan baru ini, masyarakat diimbau tetap jaga kesehatan dan ketat terapkan protokol kesehatan yang ada. Dari olahraga hingga berjemur menjadi opsi untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Kebaruan aktivitas pada sebagian besar orang ini terjadi ketika dalam masa pandemi. Menurut dr. Michael Triangto, dokter spesialis keolahragaan, olahraga dan berjemur telah menjadi aktivitas sehat sejak dulu. “Berhubung sekarang tidak boleh keluar rumah (ketika pandemi), ‘liburan’ di rumah menjadi tak nyaman,” jelasnya dikutip dalam CNN.

Ketidaknyamanan ini dikarenakan kesibukan sangat berkurang. Ia mengambil permisalan ketika seseorang dalam kondisi normal. Mereka pasti kebanyakan sibuk menghabiskan waktu di kantor, tidak memiliki waktu untuk olahraga bahkan berjemur. Menyikapi pandemi ini, dua aktivitas inilah yang makin sering dilakukan oleh orang-orang.

“Ketika semuanya sudah kembali normal seperti awal, the new normal ini saya yakin masih dipertahankan. Kecuali, kalau kebiasaan berolahraga ini mendarah daging dan mereka benar-benar punya motivasi untuk sehat, bukan karena mewaspadai gelombang kedua COVID-19,” imbuhnya.

Hati-hati Olahraga Mengikuti Video di YouTube

Menanggapi kebiasaan baru ini sebenarnya Michael merasa turut gembira. Namun, ia masih menyayangkan pada pola pikir masyarakat yang mengatakan bahwa olahraga itu capek, keringatan, lelah, dan berat. Padahal, menurutnya, olahraga tidak selalu seperti itu.

“Anggapannya, kalau tidak keringatan, ya tidak olahraga,” lanjutnya. Baginya, olahraga harus dibuat untuk sehat, fun, dan kompetisi. Olahraga tidak harus berat, contohnya dalam olahraga chikung. Dalam olahraga tersebut, gerakannya pelan, tapi cukup sehat. Untuk olahraga yang fun seperti di gym atau lapangan golf. Jika kompetisi, misalnya tinju.

Kemudian, ia juga mengatakan bahwa masih banyak orang yang asal mengikuti olahraga melalui video di YouTube. Kerapkali mereka tidak mempertimbangkan kondisi tubuh sendiri.

“Ini sering terjadi. Melihat olahraga di YouTube, orang ini keren sekali badannya, olahraganya diikuti. Padahal, mereka ini profesional atau bahkan atlet. Kalau olahraganya diikuti, apalagi untuk yang baru mulai, akan sulit dan berpotensi cedera,” kata Michael.

Intensitas Olahraga

Hal selanjutnya adalah memperhatikan intensitas olahraga di masa normal baru. dr. Andi Kurniawan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Olahraga juga menambahkan, bahwa justru semakin berat olahraga seseorang, maka malah akan berpotensi rentan terinfeksi.

Masyarakat harus benar-benar memperhatikan hal ini. Karena, semakin tinggi intensitasnya dengan durasi lama, maka akan ada efek imunosupresan di dalam tubuh kita. “Akan ada masa open window 3-6 hari. Di masa ini, tubuh rentan terinfeksi,” ujarnya. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat