Menjaga Ketahanan Jiwa dalam Suasana Pandemi COVID-19

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Menghadapi situasi pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai ternyata dapat memberi dampak pada jiwa atau mental seseorang. Jika diabaikan, maka level kesehatan mental yang rendah dapat berujung pada turunnya level kesehatan fisik.

Gelar wicara yang diadakan bersama Suara Muslim dan RS Al Irsyad Surabaya pada Selasa (28/7) lalu, menyoroti masalah kesehatan mental dalam suasana pandemi COVID-19. Dalam kesempatan ini, dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ, sebagai narasumber gelar wicara menyoroti kondisi kesehatan emosi di tengah pandemi.

“Ada studi terakhir yang mengaitkan antara kesehatan emosional seseorang dengan kondisi kesehatan fisik. Secara ilmiah sudah terbukti, kondisi fisik seperti peradangan, infeksi, dan penyakit kronis lain sangat berhubungan dengan kesehatan emosional seseorang,” ujarnya.

Maka, ia pun menyimpulkan, ketika seseorang kurang sehat secara emosional, maka hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan fisiknya. Tak heran, banyak dokter pun sering menyarankan pada pasiennya agar tidak stres demi mempercepat proses penyembuhannya.

Hal pertama agar stres tidak berdampak pada kesehatan fisik menurut dr. Azimatul, kita harus mengenali diri sendiri terlebih dahulu. “Banyak orang tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka tidak tahu apa diri mereka tipe pencemas, gampang stres di ruangan tertutup, gampang stres jika tidak bertemu orang lain, dan lain-lain,” katanya.

Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa tiap orang mempunyai titik lemahnya masing-masing. Titik lemah inilah yang harus dikenali dahulu oleh seseorang. Dalam situasi seperti pandemi ini, titik kelemahan kita sedang diuji.

Misalnya, pada seorang individu yang menemukan energinya ketika bertemu dengan lingkungan sosialnya. Dalam kondisi seperti sekarang, hal-hal tersebut pasti dikurangi. Karena, demi menghindari penularan COVID-19, kerumunan seseorang menjadi hal yang dilarang.

Maka, mau tidak mau, hal tersebut harus diganti dengan kegiatan yang lebih aman tanpa menghilangkan esensi sosial yang telah terbentuk sebelumnya. Disinilah, pentingnya seorang individu mengenali titik lemah diri sendiri terlebih dahulu.

“Banyak hal yang dulunya bisa buat kita seimbang, namun sekarang tidak bisa kita lakukan. Disinilah, kita harus mulai eksplorasi diri. Mencari kegiatan atau strategi apa di rumah yang tepat untuk membuat mental kita tetap terjaga,” imbuh dokter spesialis kejiwaan RS Al Irsyad itu.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mengakui sepakat bahwa kondisi demikian dapat memperngaruhi kesehatan emosi atau mental seseorang. Maka dari itu, mereka mengeluarkan panduan khusus untuk menjaga mental tetap sehat.

Cara-cara untuk menjaga mental tetap sehat sesuai panduan dari WHO di antaranya, bersikap empati terhadap orang yang terdampak, mengurangi paparan pemberitaan, mengganti penyebutan pasien COVID-19, saling melindungi, senantiasa membawa cerita positif tentang kesembuhan pasien COVID-19, dan menghargai para tenaga kesehatan yang tak hentinya bekerja keras. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat