Mengetahui Penanganan Pneumonia di Rumah Sakit Selama Masa Pandemi COVID-19

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Selama masa pandemi, untuk mencegah penyebaran COVID-19, setiap rumah sakit dianjurkan untuk menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung yang datang melakukan kontrol. Setiap pasien yang datang akan dilakukan skrining awal dengan memeriksa gejala-gejala klinis, tak terkecuali penyakit pneumonia.

Pneumonia dan COVID-19 memang cukup sulit dibedakan, sebab secara klinis kedua penyakit ini hampir sama dengan disertai gejala yang serupa. Apalagi salah satu komplikasi dari COVID-19 yang paling parah adalah pneumonia atau radang paru. Sehingga ketika pasien datang ke rumah sakit, maka akan ada pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis yang membedakan penyakit tersebut.

“Jadi langkah awal yang perlu dilakukan adalah melakukan rapid test untuk mengetahui respons imunitas atau kekebalan tubuh, apakah reaktif atau tidak. Jika pasien reaktif, maka akan ada pemeriksaan lanjutan, seperti interviu dengan pasien, pemeriksaan fisik, dan swab test untuk menunjukkan dia positif COVID-19 atau tidak,” ujar Dokter Spesialis Anak RS Al Irsyad Surabaya, dr. Nurita Alami Dwi Wijayanti, Sp.A.

Ketika hasil swab test menunjukkan positif, maka pasien ini akan di isolasi selama 14 hari. Selama itu pula, akan dilakukan swab test kembali hingga hasilnya menunjukkan negatif dan diikuti dengan perbaikan klinis, yakni pasien sudah tidak demam, tidak batuk, atau tidak sesak, sekaligus makan dan minum pun sudah baik, sehingga pasien akan diperbolehkan pulang.

Isolasi dilakukan selama 14 hari karena dari data-data yang terkumpul sejak di China pada bulan Desember membuktikan bahwa penyakit COVID-19 ini memiliki masa infeksius selama 14 hari, karena itulah pasien harus di isolasi selama waktu tersebut untuk memutus rantai penyebaran.

“Kalau dulu belum ada pandemi, mungkin pasien pneumonia rawat inap bisa 3 atau 5 hari, jadi tidak harus isolasi 14 hari. Kalau mereka sudah tidak memiliki gejala apapun, maka sudah boleh dipulangkan. Namun memang khusus untuk COVID-19, daya infeksiusnya tinggi dan mudah sekali menular dari manusia ke manusia maka kita putuskan untuk isolasi agar dapat memutus rantai penularan,” jelasnya.

dr. Nurita pun mengingatkan masyarakat bahwa penyakit pneumonia maupun COVID-19 dapat menyebabkan kematian jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat. Sehingga ia menyarankan masyarakat, khususnya para orang tua untuk segera membawa anak mereka ke rumah sakit ketika gejala awal yang timbul seperti demam, batuk, dan pilek tak kunjung sembuh.

“Jangan takut untuk pergi periksa ke rumah sakit, kita tidak tahu apa yang sedang anak kita alami, jika hasil menunjukkan positif COVID-19 maka akan lebih mudah dan optimal penangannya jika di awal sudah ketahuan. Tapi kalau sudah terlambat, maka akan lebih sulit untuk disembuhkan,” terangnya.

Bila dibiarkan terlalu lama, tidak menutup kemungkinan jika penyakit ini dapat menyerang organ lain, seperti saluran pencernaan, jantung, maupun ginjal. Sehingga ketika infeksius sudah berat, maka semua organ di dalam tubuh pun dapat mengalami kerusakan.

“Kerusakan organ itu pun yang menyebabkan kematian pada anak. Jadi kalau misalkan kita sudah menemukan tanda bahaya, jangan menunggu pneumonianya sampai berat, segera obati sebelum terlambat. Karena sampai sekarang pun obat untuk COVID-19 masih dalam penelitian,” tutupnya. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat