Mengenal Herd Immunity, Kondisi yang Disinyalir dapat Tekan Penularan Covid-19

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Kondisi pandemi yang tak kunjung selesai sempat membuat sebagian pihak mencuatkan soal herd immunity. Lalu apa itu herd immunity? Dan kenapa hal ini disinyalir dapat menekan penularan Covid-19? Mari kita simak ulasannya.

Herd immunity adalah konsep yang menurut Panji Fortuna Hadisoemarto, seorang pakar epidemiologi Universitas Padjajaran (Unpad) terbentuk pada sekelompok orang yang sebelumnya telah memiliki riwayat tertular penyakit tertentu. Karena riwayat ini, imun pun menjadi kebal. “Asumsinya, infeksi akan memberi seseorang kekebalan,” jelasnya dikutip dari liputan6.

Di sisi lain, menurut dr. Chaerul Effendi, Sp.PD, K-AI, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Al Irsyad Surabaya, herd immunity adalah kondisi di mana semakin banyak masyarakat dalam suatu lingkungan sosial memiliki tingkat kekebalan tinggi terhadap penyakit menular dan berpotensi menghambat hingga memutus rantai penyebaran virus.

Melansir dari kompas, istilah ini pertama kali dikenalkan oleh ahli bakteri Topley dan Wilson pada tahun 1923. Istilah ini mereka gunakan setelah melakukan penelitian pengaruh vaksinasi terhadap infeksi bakteri di tikus.

Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan adanya tingkat kekebalan individu dalam level herd dalam menghadapi penyakit. Kemudian, soal imunitas ini juga pernah kembali diteliti pada tahun 1930 oleh Hedrich.

Ia mengamati bahwa adanya imunitas level herd pada anak-anak yang terserang campak, membuat mereka kebal dan tidak terinfeksi kembali. Hal ini juga berlaku pada orang-orang di sekitar mereka, dengan dibuktikan menurunnya level kasus campak pada anak-anak.

Munculnya ide untuk memberlakukan konsep ini muncul pro dan kontra. Munculnya kontra karena konsep ini mengharuskan agar beberapa kelompok orang terinfeksi terlebih dahulu. Tidak ada satupun peraturan untuk melakukan karantina wilayah ataupun peraturan lain yang mengintervensi konsep ini.

Kemudian, menurut Panji, jika hal ini dilakukan di Indonesia, maka diprediksi sebanyak 75 persen orang di seluruh Indonesia akan terinfeksi. Hal ini dengan catatan pemerintah tidak memberlakukan peraturan-peraturan untuk melakukan karantina atau pembatasan fisik serta sosial.

“Apapun yang bisa menurunkan penularan, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa menurunkan penularan, tapi mungkin tidak cukup untuk menghentikan penularan,” imbuhnya.

Jika konsep ini diberlakukan, maka menurut prediksinya, prosentase ngka kematian karena Covid-19 tidak akan sebesar sekarang. Meski, diakuinya tetap nominal jatuhnya korban akan menjadi sangat besar.

“Kalau kematian dari yang terinfeksi akan jauh lebih kecil dari delapan persen. Yang dilaporkan sekarang kan hanya dari yang terdiagnosa dan dirawat di RS, artinya mereka sakit berat hingga sangat berat,” tuturnya.

Pemberlakuan herd immunity ini memang akan membuat nominal korban melonjak tinggi. Namun, jika sudah mencapai puncak pandemi, maka proses penularan pun akan menurun dengan cepat.

“Dari sekian banyak yang terinfeksi, sebagian besar akan sakit ringan bahkan tidak bergejala,” ungkap dr. Chaerul.

Kemudian, karena nominal angka yang melonjak tinggi ini tentu membawa kekhawatiran sebagian besar masyarakat. Kekhawatiran ini salah satunya datang dari istri founder Microsoft, Melinda Gates. Ia berpendapat, situasi sekarang masih sangat jauh untuk mendapatkan apa yang dinamakan herd immunity ini.

“Itu masih jauh. Anda tidak akan bisa mendapatkan herd immunity sampai mayoritas populasi terkena penyakit itu. Kami tahu itu berdasarkan pengalaman manusia dalam menghadapi penyakit di masa lalu,” tandasnya dikutip dari Business Insider.(ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat