Mengenal Hamil Anggur, Kelainan Pada Kehamilan

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Ada berbagai kelainan pada kehamilan, salah satunya adalah hamil anggur. Seseorang yang mengalami hamil anggur, tidak akan tahu pada awalnya karena gejalanya persis menyerupai kehamilan pada umumnya, bahkan alat tes kehamilan juga menunjukkan positif.

Hamil anggur atau mola hidatidosa merupakan kelainan pada kehamilan dimana seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofobik. Selain itu juga merupakan salah satu penyakit trofoblas gestasional (PTG), yang meliputi berbagai penyakit yang berasal dari plasenta.

“Pada mola hidatidosa, kehamilan tidak berkembang menjadi janin yang sempurna, melainkan berkembang menjadi kondisi patologik (kelainan),” ungkap dr Ariefandy Pambudi, Sp. OG, Spesialis Kandungan Rumah Sakit Al Irsyad Surabaya.

Istilah hamil anggur digunakan karena bentuk bakal janin yang terdapat mirip dengan gerombolan buah anggur. Hingga saat ini, penyebab dari hamil anggur masih belum diketahui dengan pasti. Namun ada beberapa faktor risiko yang menjadi dasar penyebabnya.

“Sampai dengan saat kondisi yang menyebabkan mola hidatidosa belum diketahui dengan pasti, hanya dapat diketahui berdasar faktor risiko yaitu faktor usia ibu lebih dari 35 tahun, faktor gizi atau kurangnya nutrisi,  faktor genetik, riwayat keguguran sebelumnya dan faktor gaya hidup seperti merokok atau minum alkohol,” papar dokter Ariefandy.

Perlu diketahui, hamil anggur atau mola hidatidosa dibagi menjadi dua bagian yaitu Partial Mola Hidatidosa dan Komplete Mola Hidatidosa. Pada Mola hidatidosa Parsial (MHP), dua sperma membuahi sel telur, menciptakan 69 kromosom, dibandingkan 46 kromosom pada konsepsi normal.

Hal ini disebut triploid, dengan materi genetik yang terlalu banyak, kehamilan akan berkembang secara abnormal, dengan plasenta tumbuh melampaui bayi. Janin dapat terbentuk pada kehamilan ini, akan tetapi janin tumbuh secara abnormal dan tidak dapat bertahan hidup.

Sedangkan pada Komplete Mola Hidatidosa atau lengkap, ketika salah satu (atau bahkan dua) sperma membuahi sel telur yang tidak memiliki materi genetik. Bahkan jika kromosom ayah dilipatgandakan untuk menyusun 46 kromosom, materi genetik yang ada terlalu sedikit. Biasanya sel telur yang dibuahi mati pada saat itu juga.

“Tetapi dalam kasus yang jarang sel tersebut terimplantasi pada uterus. Jika hal itu terjadi, embrio tidak tumbuh, hanya sel trofoblas yang tumbuh untuk mengisi rahim dengan jaringan mola,” lanjutnya.

Sering terjadi pada kebanyakan ibu hamil, rahim sama sekali tidak berisi janin melainkan dipenuhi jaringan yang berisi cairan. Sekumpulan sel di dalam rahim yang harusnya bertumbuh menjadi plasenta malah tumbuh menjadi kista di dalam maupun di luar rahim sehingga memicu munculnya gejala-gejala kehamilan.

Bagi Ibu hamil, wajib periksakan masa kehamilan sedini mungkin, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat