Mengenal Disfagia Pascastroke

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Stroke berhubungan dengan banyak komplikasi medis yang menyebabkan perpanjangan rawat inap. Salah satu komplikasi stroke yang sering dijumpai dan tercatat menyebabkan peningkatan biaya perawatan kesehatan secara signifikan ini adalah Disfagia Pasca-Stroke (DPS).

Meskipun saat ini perawatan stroke sudah banyak mengalami kemajuan, seperti pada perawatan hiper akut dengan cara trombolisis, trombektomi mekanik, dan hemikraniektomi, atau adanya perawatan sekunder seperti pemberian antitrombotik, penurunan tekanan darah, dan pemberian obat penurun lipid, namun penanganan Disfagia pasca stroke (DPS) masih menjadi ranah yang terabaikan.

Disfagia pasca stroke (DPS) sendiri, sebagaimana dijelaskan Dr. dr. Hanik B. Hidayati, SpS (K) Dokter Spesialis Syaraf, merupakan kesulitan menelan yang terjadi pada pasien pasca mengalami stroke.

“Dari sekitar 20-81 persen pasien stroke akut banyak mengalami disfagia. Penelitian lain menyebutkan berbeda-beda, ada yang menyebut terjadi pada 13-94 persen pasien stroke akut, 50 persen pasien, lebih dari sepertiga pasien, 70 persen, atau bervariasi luas antara 29 persen dan 81 persen pasien stroke,” paparnya.

Pada pasien tiga hari pasca stroke, DPS terjadi 42-67 persen. Insidensinya bergantung lokasi dan ukuran lesinya. Perbedaan insidensi DPS antar studi karena adanya perbedaan metode diagnosis, waktu pasca stroke, dan tipelesi yang terjadi.

Dampak Disfagia Pasca Stroke

DPS mengakibatkan dampak yang cukup signifikan pada kehidupan pasien. DPS lanjut dr. Hanik, menyebabkan penurunan keseluruhan kualitas hidup pasien, berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas yang sebagian dikarenakan oleh pneumonia (radang paru-paru), aspirasi (tersedak), dan malnutrisi (gangguan nutrisi).

Sebenarnya, DPS bisa terjadi sejak beberapa jam pertama sampai dengan beberapa hari pasca terjadinya stroke. Untuk mendiagnosisnya, dilakukan berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik dan bantuan alat skrining bed side. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan nervus kranialis yang meliputi NervusV (Nervus Trigeminus), Nervus VII (NervusFasialis), NervusIX (NervusGlosofaringeus), Nervus X (NervusVagus), serta Nervus XII (NervusHipoglosus).

Alat skrining bedside meliputi Gugging Swallowing Screen (GUSS), The water swallowing test (WST), Videofluoroscopy (VFS), Volume–viscosity swallow test (V-VST). V-VST bisa digunakan untuk mendiagnosis disfagia pada stroke subakut-kronik.

dr. Hanik menyebut, komplikasi bisa terjadi pada DPS, berupa aspirasi, pneumonia (radang paru-paru), dehidrasi (kurang cairan), malnutrisi, penurunan berat badan, morbiditas, dan mortalitas. Ia pun menjelaskan tentang prognosis DPS sebagai berikut:

  • Pasien dengan PSD bisa mengalami berbagai komplikasi
  • Sekitar 50,9% saat kepulangan stroke pasien masih dapat mengalami DPS
  • Sekitar 40% di antara pasien stroke tetap mengalami disfagia setahun kemudian.
  • Disfungsi menelan pada kerusakan hemisfer kiri mungkin lebih berat dibandingkan dengan hemisfer kanan karena hemisfer kiri memiliki peran lebih penting dalam memperantarai fungsi menelan. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat