Susah buang air besar atau konstipasi adalah masalah pencernaan yang umum dialami banyak orang. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih sering mengalami konstipasi dibanding pria. Perbedaan ini bukan sekadar stereotip, tetapi dipengaruhi oleh sejumlah faktor biologis, hormonal, dan gaya hidup.
1. Perbedaan Anatomi dan Fisiologi Pencernaan
Struktur anatomi panggul dan saluran cerna wanita berbeda dengan pria. Posisi usus besar pada wanita cenderung lebih berkelok serta terpengaruh keberadaan organ reproduksi seperti rahim dan ovarium. Kondisi ini bisa memperlambat pergerakan feses di dalam usus besar, sehingga meningkatkan risiko susah BAB.
2. Pengaruh Hormon Wanita
Hormon seperti progesteron dan estrogen berperan besar dalam pergerakan usus. Progesteron, yang meningkat selama siklus menstruasi, kehamilan, atau menopause, dapat melemaskan otot usus dan memperlambat kontraksi usus sehingga pencernaan berjalan lebih lambat. Estrogen juga memengaruhi keseimbangan cairan tubuh, yang dapat membuat tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
3. Dampak Siklus Menstruasi dan Kehamilan
Fluktuasi hormon yang terjadi setiap bulan saat menstruasi dapat membuat wanita lebih rentan mengalami perubahan fungsi pencernaan, termasuk konstipasi. Selama kehamilan, tekanan dari rahim yang membesar serta peningkatan hormon progesteron juga dapat memperlambat pergerakan usus, sehingga sembelit lebih sering terjadi pada ibu hamil.
4. Stres dan Hubungan Otak-Usus
Perbedaan respons terhadap stres antara pria dan wanita dapat memengaruhi pencernaan. Stres yang berkepanjangan memengaruhi gut-brain axis, yakni komunikasi antara otak dan saluran pencernaan, yang dapat memperlambat motilitas usus dan memperberat konstipasi.
5. Kebiasaan Menahan BAB dan Gaya Hidup
Wanita sering kali menahan keinginan untuk BAB karena alasan kenyamanan atau kebersihan toilet umum, yang dapat mengacaukan sinyal alami usus dan semakin memperburuk konstipasi. Selain itu, pola makan rendah serat, kurang minum air, serta gaya hidup kurang aktif juga berkontribusi pada masalah ini.
Gejala Konstipasi yang Harus Diperhatikan
Orang yang mengalami konstipasi biasanya menunjukkan gejala seperti:
- Frekuensi BAB lebih sedikit dari biasanya
- Feses keras atau kering
- Rasa tidak tuntas setelah BAB
- Perut terasa penuh atau kembung
- Rasa sulit mendorong tinja keluar
Jika konstipasi berlangsung lama atau disertai nyeri hebat, darah pada feses, atau penurunan berat badan tanpa sebab, segera konsultasikan ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Cara Mengurangi Risiko Susah BAB
Berikut langkah yang bisa membantu mengatasi atau mencegah konstipasi:
- Perbanyak konsumsi serat dari sayur, buah, dan biji-bijian serat membantu memperlunak tinja dan mempercepat pergerakannya di usus.
- Minum cukup air setiap hari untuk menjaga kelembapan tinja.
- Aktif bergerak secara teratur untuk merangsang otot usus.
- Jangan menunda BAB ketika tubuh memberi sinyal ingin ke toilet.
- Kelola stres melalui relaksasi, tidur cukup, atau teknik pernapasan.
Wanita lebih sering mengalami susah BAB dibanding pria karena faktor anatomi panggul, hormon, dampak siklus menstruasi dan kehamilan, serta kebiasaan hidup tertentu. Memahami penyebab tersebut membantu mengambil langkah pencegahan dan perawatan yang tepat. Perubahan gaya hidup sederhana seperti mengonsumsi lebih banyak serat, minum air cukup, berolahraga, dan merespon kebutuhan BAB secara teratur dapat membantu memperbaiki kondisi pencernaan. Jika konstipasi terus berlanjut tidak kunjung membaik, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.













































