Mengapa Anak Mengalami Diare Setelah Pemberian MPASI?

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Memasuki usia 6 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI atau MPASI. Akan tetapi, banyak orang tua yang beranggapan bahwa MPASI memberikan pengaruh pada pencernaan bayi, seperti diare.

Menanggapi hal tersebut, dr. Nurita Alami Dwi Wijayanti, Sp. A, Dokter Spesialis Anak RS Al Irsyad Surabaya memaparkan, jika penyebab diare belum tentu disebabkan karena pemberian MPASI, “Ada faktor utama lain yang menyebabkan hal tersebut, yakni higienitas atau kebersihan dalam pembuatan susu formula atau MPASI,” tegasnya.

Makanan instan yang biasa diketahui selama ini sebetulnya lebih tepat disebut sebagai Makanan Pendamping Terfortifikasi. Fortifikasi adalah penambahan gizi pada makanan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas makanan tersebut.

Latar belakang dibuatnya Makanan Pendamping terfortifikasi adalah untuk meningkatkan gizi anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan, bahwa di Indonesia, Pabrik Makanan Pendamping terfortifikasi wajib mengikuti ketentuan khusus yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Ketentuan ini meliputi standar keamanan, higienitas, dan juga kandungan nutrisinya. Apabila tidak memenuhi standar ini maka BPOM tidak akan mengeluarkan izin edarnya, “Jadi MPASI yang sudah terfortifikasi atau MPASI yang memang sudah didesain sesuai dengan kebutuhan anak, terutama untuk kebutuhan zat besi,” jelasnya.

Sedangkan diare adalah suatu kondisi yang mana feses dengan konsistensi cair. Bayi juga dikatakan diare apabila buang air besar lebih dari tiga kali dalam satu hari.

Saat anak mengalami diare ketika memasuki pemberian MPASI, maka perlu adanya evaluasi terlebih dahulu terkait dengan cara pembuatan maupun penyimpanannya.

“Anak diare itu paling sering penyebabnya karena higienitas proses pembuatan dan proses penyimpanannya. Misalnya susu formula pembuatannya sesuai rekomendasi WHO jadi anak umur 20 bulan harus memiliki 5-8 botol, empeng harus diganti setiap 3 bulan sekali,” terangnya.

Begitu pula dengan MPASI, lanjutnya, sebaiknya penyajian MPASI hanya disajikan 30 menit mengingat suhu bakteri dan ketahanan makanan. Jika anak sudah tidak mau makan, maka sebaiknya dibuang.

Selain itu, bayi berusia 6 bulan diberi MPASI berupa bubur beras merah atau putih. Menurut dr. Nurita, tubuh bayi pasti akan menyesuaikan diri dengan makanan baru tersebut, “Selama BAB-nya ada ampas dan anak tetap aktif serta tidak ada dehidrasi, maka makanan pendamping bisa saja diteruskan,” tuturnya,

Hal lain yang juga kerap membuat orang tua khawatir adalah ketika ditemukan ada lendir atau bercak putih pada feses bayi. dr. Nurita pun menerangkan jika hal ini mungkin karena tubuh bayi mengalami alergi atau adanya infeksi.

“Bila konsistensi feses tetap cair dan tidak terdapat perbaikan, sebaiknya periksakan ke dokter dan cek feses di lab agar bisa terlihat jika ada kelainan,” pesan dr. Nurita. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat