Lubang di Rongga Dada Hingga Tangani Pasien Korban Carok: Pengalaman Praktik dr. Syarwani

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Layaknya profesi lain, seorang dokter juga memiliki perjalanan karir dan pengalaman unik selama bertugas. Di RS Al Irsyad Surabaya pun demikian. Dr. Syarwani juga memiliki ceritanya sendiri yang terus menjadi sesuatu yang dapat dikenang.

RS Al Irsyad Surabaya menjadi tempat pengabdiannya hingga hari ini. Ia mulai mengabdi pada tahun 1999. Di saat bersamaan, dr. Syarwani juga berpraktik di dua tempat lain. Ia bercerita, awal karirnya di RSAI hanyalah sebagai dokter paruh waktu Unit Gawat Darurat (UGD). Barulah pada tahun 2001, ia resmi diangkat menjadi dokter purna waktu di RSAI.

Selepas pendidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr. Syarwani berpraktik di tiga tempat yang berbeda. Salah satunya, ia mengabdikan diri di RS Al Irsyad Surabaya (RSAI), tepatnya pada akhir tahun 1999. Ia bercerita, awal karirnya di RSAI hanyalah sebagai dokter paruh waktu Unit Gawat Darurat (UGD). Barulah pada tahun 2001, ia resmi diangkat menjadi dokter purna waktu di RSAI.

“Seingat saya, awal di sini itu tahun 1999 dan jadi dokter paruh waktu yang jaga di akhir pekan, untuk UGD. Jadi, dokter paruh waktu ini nggak lama, cuma setahun saja. Di 2001, baru saya diangkat jadi dokter reguler,” katanya ketika ditemui, Rabu (19/1).

Tiga tahun sebagai dokter yang aktif berpraktik, manajemen RS kembali mengamanahi dr. Syarwani dengan memberinya jabatan sebagai Kepala UGD pada tahun 2004. Menjalani tahun ke tahun sebagai dokter, ia kembali diangkat menjadi Kepala Unit Rawat Jalan di tahun 2014.

Yang tak disangkanya, ketika ia diangkat menjadi Kepala Unit Rawat Jalan, Surat Keputusan (SK) jabatan tersebut tepat di tanggal ulang tahunnya. Ia mengungkap, manajemen RS kala itu tidak merencanakan demikian.

“Manajemen nggak menyadari kalau tanggal SK tersebut tepat di hari ulang tahun saya. Bagi saya, itu adalah kado ulang tahun. SK bertanggal 26 Juni 2014,” imbuh pria yang masih aktif berpraktik di RSAI itu.

Sudah hampir 20 tahun ia mengabdikan diri di RSAI, ia kembali diamanahi jabatan baru sejak November lalu. Ia sekarang menjabat sebagai Manajer Operasional dan Pelayanan Gedung 2 (baru) RS Al Irsyad Surabaya.

Kemudian ia kembali menapak tilas perjalanan karirnya. Salah satu kenangan yang masih terpatri di benaknya adalah ketika menangani pasien dengan status gawat darurat.

Ia menuturkan, pasien tersebut masih muda dengan perkiraan umur kepala 2. Pasien itu datang dalam kondisi sesak yang hebat, “Jadi, pasien pria ini datang dengan kondisi gawat darurat, kena pneumotoraks,” jelasnya sembari mengingat kejadian tersebut.

Sesampainya di UGD, pasien tersebut langsung ia tangani. Namun, pasien sempat kehilangan kesadaran di 5-10 menit awal ia dirawat. Saat itu pula, dr. Syarwani langsung melakukan pertolongan pertama. Pertolongan pertama tersebut, ia lakukan dengan membuka jalur pernafasan dengan memberi lubang kecil pada rongga dadanya. Saat itu pula, pasien kembali sadar.

Lalu, ia kembali memutar memori masa lalu, di masa-masa pasien ‘khas’ RSAI. Karena dibangun di basis lingkungan yang didominasi oleh orang-orang Suku Madura, dahulu, ia masih sering mendapati pasien-pasien korban carok.

“Khasnya RSAI dulu, sering menangani pasien-pasien korban carok. Malam tahun baru tuh paling sering dan banyak korban carok. Ya itu khasnya pasien RSAI dulu,” ujar pria lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1989 itu sembari tertawa. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat