Ini Pentingnya Literasi Laktasi pada Ibu Menyusui

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Peran tenaga kesehatan pada literasi laktasi atau pemahaman mengenai laktasi sangatlah diperlukan, sehingga pengetahuan laktasi (menyusui) dapat sampai pada ibu dan tidak malah terjadi malpersepsi atau kesalahpahaman.

Inilah mengapa, empat standar emas makanan bayi (golden standard of infant feeding) masih belum dapat diberlakukan sejalan dengan Peraturan Pemerintah, Permenkes, hingga UU yang mengatur mengenai laktasi, dan kesadaran mengenai pentingnya laktasi masih belum benar-benar dipahami oleh masyarakat.

Menurut dr. Ny. Agustini Rizky Dhiniharia, Sp. OG, Konselor Laktasi yang juga Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan di RS Al-Irsyad, tenaga kesehatan di Indonesia masih belum sepenuhnya memahami urgensi dari proses laktasi ini. Sehingga implementasi dan malpersepsi mengenai pemberian ASI masih tumbuh subur di Indonesia.

Kesadaran mengenai laktasi ini, terutama harus tumbuh dari rumah sakit selaku penyelenggara pelayanan kesehatan. Karena di Indonesia sendiri, masih banyak RS yang belum mendukung pemberian ASI pada bayi yang baru lahir di RS tersebut. Sehingga bayi yang baru lahir sudah dikenalkan dan diberi susu formula, tanpa menghiraukan pentingnya standar emas makanan bayi.

“Kebanyakan kesalahan dari tenaga kesehatan suatu rumah sakit tidak benar-benar paham mengenai laktasi kemudian memberikan penyuluhan yang salah pada pasien yang melahirkan di sana. Sehingga kesadaran ibu pun salah mengenai laktasi itu sendiri,” papar dr. Agustini.

“Jadi juga sebenarnya penting diberikan inhouse training bagi tenaga kesehatan. Agar pernyataan dari dokter dan perawat dalam melayani pasien ibu melahirkan dapat sesuai,” imbuhnya

Bahkan, lanjut dr. Agustini, tidak semua dokter anak memahami pentingnya standar emas makanan bayi dan masih belum banyak regulasi rumah sakit yang menghiraukan pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan rawat gabung sebagai tahapan pertama pada proses laktasi yang sesuai pada standar emas makanan bayi.

Saat Pemberian ASI

Seringkali karena ibu tidak tahu dan tidak diberitahu, ibu menyusui dengan cara yang salah, akibatnya, bayi nampak telah melakukan usaha menyedot ASI dari puting ibunya, tapi tetap nampak tidak puas dan terus menangis.

“Ini karena sebenarnya bayi belum kenyang. Usaha bayi sudah kuat, tapi dia tidak mendapatkan ASI, sehingga bayi kelelahan dan rewel. Proses laktasi menjadi tidak efektif,” ungkap Konselor Laktasi tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya karena bayi mengalami bingung puting. “Ini tergantung dari cara ibu saat memberikan ASI. Jika sudah dibiasakan minum ASI melalui dot, maka bukan berarti bayi tiba-tiba tidak menyukai ASI, tapi tidak mau cara menyedotnya. Karena mekanisme menyedot ASI melalui puting ibu dengan dot sudah berbeda,” terangnya.

Oleh karena itu, pemberian susu formula sangat tidak dianjurkan dan bertentangan dengan standar emas makanan bayi. “Semua bayi hingga masa pemberian ASI ekslusif tetap harus menyusu pada ibunya,” tegas dr. Agustini.

Lalu satu kondisi lain, saat menerima ASI bayi muntah, padahal bayi masih ingin terus menyusu. Maka bukan berarti bayi tersebut kenyang. Yang perlu diketahui, papar dr. Agustini, saat menyedot melalui puting, sama halnya orang dewasa saat membuka mulut ketika berbicara, bayi juga bisa saja turut menghirup udara. Untuk itu, ketika menyusui, ibu perlu memberikan sedikit jeda. “Selain itu, ibu juga perlu memperhatikan posisi yang tepat,” kata dr. Agustini.

Malpersepsi Saat Pemberian ASI

Selain dari faktor tenaga medis dan ibu sendiri, lanjut dr. Agustini, faktor lain yang turut mendukung kesadaran peran ASI bagi bayi adalah adanya iklan susu formula. Faktor malpersepsi membantu tumbuhnya persepsi bahwa meminum susu formula bagi bayi adalah hal yang lumrah. 

Seperti halnya pil pelancar ASI, yang sebenarnya tidak berdampak apapun pada ibu, kecuali faktor psikologis ibu sendiri. “Penelitian sudah membuktikan. Kelancaran ASI hanya dapat dicapai jika sering dikosongkan, sehingga produksi ASI juga akan banyak,” tandas dr. Agustini.

Hal lain mengenai mal persepsi dari proses laktasi adalah payudara dan puting kecil ibu. Hal itu, ditegaskan dr. Agustini, tidak berpengaruh bagi proses laktasi karena itu hanya faktor lemak. “Pada dasarnya kelenjar susu ibu pada masa menyusui adalah sama. Jadi, payudara dan puting kecil tidak berpengaruh pada proses laktasi.”

Ada banyak pengetahuan-pengetahuan yang perlu diberikan mengenai laktasi yang tidak tersampaikan. Ini yang menyebabkan banyak persoalan mengenai ASI di Indonesia. Oleh karena itu, anjuran mencari tahu bagi para ibu untuk literasi laktasi diperlukan.

Selain itu, tenaga kesehatan terutama peranan dokter, khususnya dokter anak harus benar-benar memahami mengenai laktasi. Sehingga ada upaya yang lebih baik dari mengobati dan mencegah, yakni dengan mempromosikan tentang kesehatan itu sendiri.(nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat