Konsumsi Makanan Cepat Saji pada Remaja dapat Sebabkan Depresi

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Terlalu banyak mengonsumsi makanan cepat saji (junkfood) tidak hanya meningkatkan obesitas dan beragam penyakit kronis lainnya, namun juga dapat menyebabkan risiko depresi pada remaja.

Mengutip dari CNNIndonesia, penelitian kembali menemukan efek samping dari terlalu sering mengonsumsi junkfood. Makanan ini menjadi salah satu poin penting yang menyebabkan deprisi pada remaja.

Menurut National Institutes of Health (NIH) mengartikan bahwa junkfood sebagai makanan alternative yang cepat dan cenderung tinggi akan lemak jenuh, gula, garam, dan kalori. Semua itu dapat ditemui dari beragam menu cepat saji, seperti makanan olahan, makanan beku, dan makanan ringan.

Banyak orang lebih memilih mengonsumsi makanan cepat saji karena sangat mudah disajikan dan rasanya yang gurih menjadi penikmat sendiri bagi berbagai kalangan. Pilihan tersebut menjadi pilihan tepat di tengah kesibukkan sehari-hari.

Di antara kenikmatan yang disuguhkan, sayangnya pola makan tak seimbang tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, hal itu ditunjukkan oleh penelitian dari University of Alabama, Amerika Serikat.

Setelah peneliti menganalisis urine dari siswa sekolah menengah dan dihubungkan dengan tanda serta gejala stress maka dapat ditunjukkan hasil bahwa dalam urine siswa yang memiliki gejala depresi, ditemukan kadar natrium yang tinggi sedangkan kadar kalium yang rendah.

“Natrium yang tinggi terdapat dalam banyak makanan yang melewati banyak proses pengolahan, termasuk makanan cepat saji, makanan beku, dan makanan ringan yang tidak sehat,” ujar peneliti Sylvie Mrug, dikutip dari CNN.

Dan jika jumlah kalium rendah maka itu merupakan indikasi dari pola makan rendah sayuran dan buah-buahan, seperti tomat, bbayam, kacang-kacangan, alpukat, susu, dan yogurt. Hal inilah yang kemudian dikaitkan dengan munculnya tanda-tanda depresi hingga satu setengah tahun ke depan.

“Temuan penelitian ini masuk akal, karena makanan kaya kalium adalah makanan sehat. Jadi, jika remaja mengonsumsi lebih banyak makanan kaya kalium, mereka akan memiliki lebih banyak energi dan merasa lebih baik secara keseluruhan, yang dapat mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik dan peningkatan kesehatan mental,” kata ahli nutrisi Lisa Drayer mengomentari hasil penelitian ini.

Hasil dari penelitian ini kemudian diperkuat dengan menyesuaikan variable lain seperti tekanan darah, berat badan, usia, dan jenis kelamin. Dan hasilnya pun tetap sama bahwa pengaruh efek makanan cepat saji terhadap depresi tetap kuat tak bergantung bagaimana kondisi tubuh. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat