Ketahui Dampak Logam Berat pada Pangan

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Pangan dan makanan mempunyai fungsi yang sangat penting untuk manusia. Makanan yang aman tentunya jadi faktor yang penting. Namun, bagaimana jika makanan yang kita makan dihinggapi logam yang berbahaya bagi kesehatan?

Dalam Undang-Undang RI No 7 tahun 1996, keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.

Namun tentunya, tanpa disadari, makanan yang kita makan bisa saja dihinggapi logam berat  yang sama sekali tidak mempunyai fungsi biologis, bahkan sangat berbahaya dan dapat menyebabkan keracunan (toksisitas).

Logam berat biasanya dihasilkan dari proses penambangan dan hasil dari daur ulang serta pembuangan limbah industri yang memiliki sifat yang tidak bisa dilebur, dihancurkan, dan diuraikan oleh jasad renik maupun mikroorganisme yang ada di dalam tanah, udara, serta perairan.

Sehingga logam berat dapat mengendap dan menumpuk di dalam tanah, air, dan udara sebelum akhirnya melekat pada tempat atau lokasi tertentu seperti makanan, baju, alat rumah tangga, dan air sumur. Hal ini inilah yang menyebabkan lingkungan dapat terkontiminasi logam berat tersebut.

Logam berat yang menjadi berbahaya disebut dengan adanya sistem bioakomulasi. Bioakumulasi adalah peningkatan konsentrasi zat kimia dalam tubuh mahluk hidup dalam waktu yang cukup lama, dibandingkan dengan konsentrasi zat kimia yang terdapat di alam. 

“Logam berat mudah sekali terakumulasi dengan tanah, air, dan udara karena ulah manusia sendiri ketimbang perubahan alami dari cuaca yang ekstrim sekalipun,” papar Nur Ulfah, A.Md.Gz, Ahli Gizi di RS Al-Irsyad Surabaya.

Terjadinya kontaminasi logam paling sering disebabkan pengaruh pencemaran lingkungan oleh logam berat. Adanya logam berat dalam tubuh jelas akan berpengaruh dalam tubuh.

Bila jumlahnya berlebih akan menjadi sangat berbahaya. Logam berat yang masuk ke dalam tubuh manusia akan melakukan interaksi antara lain dengan enzim, protein, DNA, serta metabolit lainnya.

Dampaknya, seluruh makluk hidup dalam rantai makanan, termasuk tumbuhan, hewan, dan manusia dapat ikut terkontaminasi dan menderita berbagai gangguan kesehatan,

“Logam berat dalam konsentrasi tinggi dan masuk ke dalam organ internal tubuh manusia sendiri akan berubah menjadi racun yang bisa merusak semua organ tubuh dengan cepat, termasuk keracunan yang kemudian secara cepat menimbulkan rusaknya jaringan penglihatan, pendengaran, ginjal, hati, lambung, sel darah dan menghancurkan susunan syaraf pusat (otak), hingga kematian,” papar Ulfah.

Untuk itu, lanjut Ulfah, usaha yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya logam berat antara lain dengan menghindari sumber bahan pangan yang memiliki risiko mengandung logam, serta mencuci dan mengolah bahan pangan yang akan dikonsumsi dengan baik dan benar. 

Apalagi logam berat di dalam bahan pangan ternyata tidak hanya terdapat secara alami, namun juga dapat merupakan hasil migrasi dari bahan pengemasnya.

“Pengemasan bahan pangan juga harus dilakukan secara hati-hati. pengemasan makanan dengan menggunakan kertas koran bekas tenrtu tidak tepat karena memungkinkan terjadinya migrasi logam berat terutama Pb dari tinta pada koran ke makanan,” jelasnya.

Ulfah pun tak menganjurkan pengemasan panganan dengan bahan yang memiliki aroma kuat, seperti PVC (poli vinyl chloride) dan styrofoam, karena dapat memungkinkan terjadinya migrasi arsen ke makanan.

Selain memperhatikan hal tersebut, yang tidak kalah pentingnya menurut Ulfah adalah kita juga perlu memperhatikan dan peduli terhadap lingkungan agar pencemaran logam berat itu tidak semakin bertambah jumlahnya. 

“Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan mengenai logam berat diperlukan untuk membuat kita lebih waspada terhadap pencemaran logam berat,” tuturnya.

Jika sudah terlanjur mengonsumsi, atau tanpa sadar telah mengonsumsinya, kita dapat menetralkan timbal dan mengurangi penyerapan logam berat melalui sistem pencernaan.

Hal ini dilakukan dengan banyak mengonsumsi makanan mengandung serat tinggi seperti buah-buahan, sayuran, bawang, dan kacang-kacangan. 

Kandungan serat makanan seperti pektin, lignin, dan beberapa hemiselulosa dari polisakarida lain yang larut dalam air, vitamin C, serta bioflavanoid inilah yang mampu memberikan efek baik bagi tubuh yang terlanjur mengonsumsi logam berat. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat