Kenali Gejala Epilepsi pada Anak

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Penyakit epilepsi merupakan penyakit yang tak kenal usia. Mulai dewasa hingga anak-anak dapat mengalaminya. Terutama pada anak dengan sindrom Down dan Autisme.

Epilepsi yang merupakan kelainan kronis berupa kejang karena listrik yang tiba-tiba menyerang otak berulang tanpa penyebab yang pasti bukan hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak pun kerap mengalami epilepsi, terutama pada anak-anak dengan down syndrome dan autisme.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis, sekitar 50 juta orang di seluruh dunia menderita epilepsi, menjadikan penyakit ini salah satu penyakit neurologis paling umum di dunia.

Risiko kematian dini pada orang dengan epilepsi pun disebut tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum. Di banyak bagian dunia, orang dengan epilepsi menderita stigma dan diskriminasi. 

WHO memperkirakan kemungkinan hal ini disebabkan oleh peningkatan risiko kondisi endemik seperti malaria atau neurocysticercosis, insiden kecelakaan lalu lintas jalan yang lebih tinggi, cedera terkait kelahiran, kurangnya ketersediaan program kesehatan preventif, dan perawatan yang dapat diakses. 

Semntara epilepsi pada anak-anak kerap dialami terutama pada anak-anak dengan down syndrom dan autisme. Dilansir dari Stanfordchildren, epilepsi pada anak terjadi karena selain disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmiter, juga disebabkan genetika, tumor otak, stroke, kerusakan otak akibat penyakit atau cedera, termasuk saat lahir dan obat-obatan terlarang.

Anak-anak yang demam atau infeksi, memiliki cedera kepala, hingga terlahir prematur sangat berpotensi terkena epilepsi. Oleh karena itu, perlu kewaspadaan mengetahui tanda dari penyakit kejang ini. Gejala kejang ini bisa terdeteksi dengan melihat beberapa tanda peringatan.

Deteksi Gejala Kejang Epilepsi pada Anak

Anak-anak dengan gejala epilepsi akan mulai menyentakkan lengan dan kaki, mengalami sesak napas, jatuh tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, tidak menanggapi kebisingan atau kata-kata untuk periode singkat, tampak bingung, mata berkedip cepat dan menatap. Selama kejang, bibir anak juga nampak berwarna biru dan pernapasannya mungkin tidak normal. 

Epilepsi pada anak-anak didiagnosis oleh ahli saraf pediatrik, dokter yang berspesialisasi dalam masalah otak, tulang belakang, dan sistem saraf.

Pengujian dapat meliputi tes darah dan tes urin, electroencephalography (EEG) untuk melihat gelombang otak atau aktivitas listrik di otak, video electroencephalography (VEEG), CAT scan, MRI, dan PET untuk melihat ke dalam otak.

Untuk pengobatan, epilepsi biasanya diobati dengan memberikan beberapa obat anti-epilepsi (AED) atau obat antikonvulsan. Akan tetapi, jika obat masih tidak mempan biasanya dilakukan diet khusus, seperti diet ketogenik.

Diet ketogenik atau keto adalah diet ketat tinggi lemak, rendah karbohidrat yang dapat mengurangi kejang. Untuk kejang yang sulit dikendalikan, dokter biasanya merekomendasikan stimulasi saraf vagal (VNS), yang merupakan alat yang merangsang saraf vagal, atau pembedahan.

Selain upaya pengobatan dari dokter, kejang juga bisa diatasi oleh orang tua si anak. Sebagian besar anak-anak dengan epilepsi dapat menjalani hidup normal jika orang tuanya sigap.

Kids Health menjelaskan, bahwa untuk menjaga anaknya yang epilepsi, orang tua dapat melakukan hal-hal seperti memastikan anaknya minum obat sesuai resep, menghindari anak dari pemicu seperti stres berlebihan dan kurang tidur, membantunya belajar atau berperilaku, rajin mengunjungi ahli saraf seperti yang direkomendasikan.

Epilepsi sangat bisa dicegah. Diperkirakan 25 persen kasus epilepsi dapat dicegah. Salah satu yang bisa dilakukan adalah mencegah anak dari cedera kepala. Cara ini adalah cara paling efektif untuk mencegah epilepsi pasca-trauma. Pada daerah tropis seperti Indonesia, infeksi sistem saraf pusat adalah penyebab umum epilepsi.

Infeksi ini biasanya terjadi melalui kasus Sistiserkosis, infeksi jaringan tubuh yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium. Cacing ini biasanya menginfeksi jaringan otot dan otak. Keberadaan cacing pita jenis ini biasanya ditemukan di daerah kotor seperti daerah dengan sanitasi buruk.

Oleh karena itu, perlu adanya pembersihan lingkungan dan pendidikan tentang cara menghindari infeksi dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi epilepsi. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat