Jet Lag Kronis, Berdampak pada Kesehatan

Rs-alirsyadsurabaya.co.idBagi Anda yang kerap bepergian dengan pesawat terbang, waspadai risiko jet lag. Berdasarkan studi, terlalu sering mengalami jet lag bisa memperburuk kesehatan.

Jet lag adalah perubahan waktu tidur sementara atau merasa lelah dan kebingungan setelah perjalanan panjang dengan melintasi beberapa zona waktu menggunakan pesawat terbang. Gejalanya adalah gangguan pada pola tidur, rasa selalu mengantuk, dan kelelahan.

Adapun yang dimaksud jet lag kronis menurut Baylor College of Medicine yaitu seseorang mengalami mabuk udara setelah naik pesawat dengan gejala mual, muntah, hingga gangguan metabolisme. Bila dibiarkan lebih dari 24 jam akan memicu risiko fatal lainnya.

Saat seseorang mengalami jet lag, mereka biasanya merasakan kelelahan, kesulitan berkonsentrasi, dan bahkan perubahan suasana hati. Namun, sekarang telah diketahui bahwa jet lag juga berisiko lebih serius.

Kemampuan Belajar hingga Risiko Kanker Hati

Sebuah studi yang dilakukan pada 2010 oleh University of California Berkeley, dikutip dari Womantalk, menemukan bahwa jet lag kronis akan meninggalkan perubahan di hippocampus, yaitu bagian otak yang bertanggung jawab untuk memori dan kemampuan belajar.

Lalu, penelitian yang baru saja dirilis dari Toho University di Jepang, mengatakan bahwa jet lag juga dapat memicu diabetes. Penyakit tersebut bisa muncul karena orang akan kehilangan waktu tidur sehingga memengaruhi kemampuan hati untuk memproduksi insulin, yang membantu mengontrol kadar glukosa darah.

Jika ini terjadi, maka akan meningkatkan risiko penyakit terkait dengan metabolisme, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit hati berlemak. Seperti diketahui, diabetes dapat menyebabkan komplikasi kesehatan pada organ vital tubuh lainnya. Sedangkan hati berlemak meski tidak terlalu berbahaya, tetapi jika terjadi terus menerus bisa menimbulkan kerusakan pada hati dan juga menimbulkan komplikasi penyakit serius.

Profesor David Moore dari timnya dari Baylor College of Medicine, dilansir dari Okezone menjelaskan, seseorang yang mengalami jet lag kronis akan mengalami gangguan irama metabolisme hati. Nantinya, mengarah pada risiko penumpukan lemak dan asam empedu yang merupakan faktor risiko kanker.

Bahkan, bahaya jet lag karena sirosis menyebabkan seseorang berisiko tiga kali lipat meninggal dunia. Hanya sekira 10 persen dari mereka yang didiagnosis bertahan hidup lebih dari lima tahun, menurut Cancer Research di Inggris.
Studi ini melibatkan 6.000 orang di Inggris yang sedang didiagnosis sirosis setiap tahunnya. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Cell ini mengontrol pola tidur tikus.

David Moore mengatakan, kanker hati terus meningkat di seluruh dunia. Aneka penyebabnya beragam, mulai dari gaya hidup, hingga masalah jet lag yang tak banyak diketahui orang.

“Jet lag menjadi salah satu faktor sirosis yang semua orang harus tahu. Karena masih banyak yang mengabaikan jet lag lebih dari 24 jam,” pungkas David. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat