Islam telah Menjawab Permasalahan Stres

rs-alirsyadsurabaya.co.id-Kondisi lingkungan perkotaan yang padat, biaya hidup yang tinggi, serta minimnya lapangan pekerjaan menjadi pemicu stres yang paling tinggi, sehingga masyarakat perkotaan sangat rentan terserang stres daripada masyarakat yang hidup di desa.  Namun Islam telah menjawabnya.

Allah Subhanu wa ta’ala berfirman dalam Surat Ali-Imran Ayat 193 yang artinya :

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman.”

Didasarkan pada firman Allah tersebut, niat dalam melakukan segala sesuatu harus didasarkan hanya pada Allah semata. karena niat tersebut yang akan memberikan sebuah energi yang luar biasa besar untuk menghadap segala cobaan serta musibah yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian, sikap sabar dalam menerima sebuah cobaan serta musibah adalah sikap yang penting dan harus dimiliki oleh setiap muslim. Dengan kesabaran pula seorang muslim akan dicintai oleh Allah, dan diberikan pertolongan. sesuai dengan firman Allah dalam Surat Yusuf Ayat 18 yang artinya :

“Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.”

Selanjutnya, untuk mengatasi stres setiap muslim dianjurkan untuk selalu mengingat Allah. dalam hal ini dzikir merupakan sebuah obat bagi jiwa manusia untuk mengingat dan mengembalikan segala hal dari dan untuk Allah semata. Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Raad Ayat 28 yang artinya :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Manajer Bidang BPI (Bimbingan Pelayanan Islam) dari salah satu RS Syariah di Indonesia pernah mengungkapan dalam mukisi.com, bahwa permasalahan yang sering dikonsultasikan pasien di rumah sakit adalah masalah psikospiritual. “Yaitu bagaimana memelihara kesabaran saat ditimpa musibah sakit, serta ridha menerima keadaan. Ini sangat mempengaruhi kesembuhan pasien,” ungkapnya.

Oleh karenanya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pasien harus dikembalikan pada fitrahnya, yaitu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Berkumpul dengan orang-orang shaleh misalnya, atau lebih khusyu’ dalam beribadah dan berdoa. Sebab dalam doa terdapat komunikasi intim antara seorang hamba dengan Allah subhanahu wa ta’ala. (Nda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat