Ini yang Perlu Diperhatikan Ibu untuk Cegah Penularan HIV pada Janin

Rsalirsyadsurabaya.co.id –  Penularan HIV pada janin bisa dicegah. Salah satunya, ibu hamil dengan HIV bisa melakukan upaya melahirkan dengan cara operasi caesar. Bagaimana penjelasannya? Simak ulasan berikut.

Pakar kebidanan dan penyakit kandungan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang dr Agoes Oerip Poerwoko mengatakan perempuan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) sebaiknya melahirkan dengan operasi caesar.

“Ibu pengidap HIV yang hamil memang disarankan melakukan proses persalinan melalui operasi caesar. Ini untuk menghindari penularan HIV pada janin karena luka akibat proses persalinan normal,” jelasnya.

Ia menegaskan, bayi yang terlahir dari ibu positif HIV tidak selalu tertular virus. Jika pun terjadi penularan HIV pada bayi, maka baru bisa diketahui setelah usianya menginjak 18 bulan.

Karena itu, kata dia, para perempuan yang terinfeksi HIV tetap diperbolehkan untuk hamil, namun dengan memperhatikan sejumlah hal yang harus diwaspadai agar virus tersebut tidak menular kepada buah hatinya.

Salah satu caranya, adalah dengan cara merencanakan kehamilannya, termasuk pemeriksaan awal seperti jumlah virus dan kondisi kekebalan tubuhnya. Apalagi penularan HIV pada janin bisa terjadi melalui plasenta.

“Kalau plasenta si ibu sehat, kemungkinan bayi yang dikandungnya tidak ikut tertular HIV,” kata Agoes yang juga anggota tim HIV/AIDS RSUP dr Kariadi Semarang tersebut.

Akan tetapi, kata dia, sehat atau tidaknya plasenta si ibu tidak terlihat melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG), dan semakin banyak jumlah virus yang terkandung, maka memperbesar risiko penularan HIV pada janin.

“Untuk memperkecil risiko penularan pada janinnya, perempuan pengidap HIV yang hamil harus selalu mengonsumsi obat `Antiretroviral` (ARV) untuk memperlambat perkembangbiakan virus dalam tubuh,” katanya, dikutip Antara.

Selain itu, upaya meminimalkan penularan virus HIV pada bayi juga dilakukan dengan memberikan obat profilaksis pada setiap bayi yang terlahir dari rahim ibu yang positif mengidap virus HIV.

Disinggung pemberian air susu ibu (ASI) pada bayi tersebut, ia mengatakan hal itu boleh saja dilakukan dan memang lebih baik, meskipun tetap memiliki risiko terhadap penularan HIV pada bayi.

“Boleh saja (pemberian ASI, red.), namun sebaiknya jangan dicampur dengan pemberian susu formula, sebab susu formula dikhawatirkan membuat usus bayi terluka dan tidak memiliki zat antibodi seperti halnya ASI,” kata Agoes. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat