Indonesia Tiga Besar Penderita Tuberkulosis Terbanyak Dunia, Kenali Faktor Risikonya

Rs-alirsyadsurabaya.co.id – Hingga saat ini, Indonesia masih memegang peringkat ketiga kasus penderita Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia setelah India dan Tiongkok. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap, sudah 1,5 juta penduduk dari seluruh dunia meninggal karena penyakit ini pada tahun 2018.

Data per 1 Mei 2019 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengungkap, bahwa penderita TB di Indonesia sudah menyentuh angka 842.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 60 ribu di antaranya adalah penderita balita dan 10 ribu penderita adalah pasien dengan HIV/AIDS.

Angka ini menurut keterangan dari Kemenkes berarti bahwa penderita TBC di Indonesia sudah mengalami penurunan sebanyak 200.000 kasus dibanding pada tahun 2017 yang tercatat ada sebanyak 1.020.000 kasus. Namun meski angka tersebut menurun, Indonesia masih memegang peringkat ketiga kasus TBC tertinggi di dunia.

Tingginya masalah TBC di Indonesia ini disebabkan karena penemuan kasus dan pengobatannya secara tuntas kalah cepat dibanding penyebarannya. Maka dari itu, peran aktif masyarakat dibutuhkan untuk mencegah penularan penyakit TBC di Indonesia.

Di sisi lain, karena angka penderita yang masih cukup tinggi, Global TB Caucus drg. Putih Sari mengatakan, Indonesia perlu menempatkan darurat TBC sebagai prioritas nasional seperti halnya kasus stunting.

“Penyakit menular berpengaruh besar pada kehidupan secara global. Sehingga, WHO sangat peduli dengan kondisi TB ini. Terutama di Indonesia, hingga saat ini TB belum menjadi prioritas nasional. Jadi, kita ingin mendorong TB untuk jadi prioritas nasional ke depannya, seperti halnya stunting,” paparnya dilansir dari iNews.

Faktor-faktor Risiko TBC

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini sering menginfeksi saluran pernapasan seperti paru. “TB ini adalah penyakit yang menginfeksi pernapasan, biasanya paru,” jelas dr. Annisa Sutera Insani, Sp.P, pakar penyakit pernapasan Indonesia, dikutip Kompas.

Meski umumnya menyerang paru, ternyata dr. Annisa juga mengungkap, bakteri ini juga dapat menginfeksi bagian lain seperti, kelenjar leher, kulit, tulang, selaput otak, bahkan uterus pada wanita.

Menurutnya, faktor utama yang mendasari seseorang terinfeksi TB adalah sistem imun tubuhnya. Beberapa faktor risiko lainnya juga dapat mendasari seseorang terinfeksi seperti, diabetes, HIV, dan gagal ginjal.

Ketiga faktor risiko sekunder di atas dikarenakan immunocompromised, yakni keadaan pasien dengan penurunan sistem imun yang disebabkan berbagai hal, “Sebenarnya, semua karena immunocompromised. Jadi, rentan kena penyakit, daya tahan tubuh lebih rendah dibanding orang lain,” tuturnya.

Orang-orang yang sedang menjalani kemoterapi pun juga berpotensi terinfeksi TB. Karena, terapi seperti ini membuat imunitas seseorang mengalami penurunan. Penularan penyakit ini melalui droplet sama halnya virus Corona dan Influenza. Maka dari itu, wajar jika ada seseorang yang terinfeksi TBC dan berkumpul bersama beberapa orang, maka orang lain dapat turut terinfeksi.

“TB harus diobati, berobat sampai sembuh biar nanti tidak menjadi resisten atau kebal obat,” pungkas Dr. dr. Erlina Burhan, Sp.P (K) dari Satgas Waspada dan Siaga nCoV PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI). (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat