Ibu Butuh Siapkan Mental Untuk Percaya Diri Menyusui

Rsalirsyadsurabaya.co.id –  Menyusui fase penting yang menguatkan ikatan batin ibu dan bayi. Untuk itu, ibu menyusui tak hanya membutuhkan kesiapan fisik namun juga mental sejak dari awal kehamilan agar proses produksi serta pemberian ASI lancar.

Sebagian besar faktor yang menghambat ibu untuk menyusui terletak pada faktor psikologis dan kurangnya informasi. Jika faktor ini dapat ditanggulangi, proses menyusui dapat lebih lancar dan tidak mengalami masalah yang berarti.     

Dokter Spesialis Anak RS Al Irsyad Surabaya, dr. Nurita Alami Dwi Wijayanti, Sp.A menyampaikan kondisi fisik dan mental seorang ibu penting diperhatikan. Dari sisi fisik, payudara dan puting patut dijaga kebersihan dan kelembapannya. Jika bengkak dan tidak optimal mengeluarkan ASI, aplikasikan teknik pijat laktasi agar payudara relaks serta membantu mengeluarkan ASI yang tersumbat.

Kesiapan mental pun tidak kalah penting apalagi di masa pandemi. Cobalah berkomunikasi dengan pasangan, dapatkan dukungan keluarga, gali inspirasi dari sesama ibu menyusui, dan lengkapi informasi yang valid soal menyusui.

“Semua faktor ini akan membantu kondisi psikologis ibu dan meningkatkan hormon oksitosin yang melancarkan aliran ASI,” ujarnya.

Konseling pada dokter maupun bidan juga penting terkait menyusui sebelum melahirkan. Hal ini agar ibu memantapkan hati dan tak goyah ketika akan menyusui atau memberikan ASI pada bayi.

Selama melakukan konseling, dokter yang akrab disapa Nurita ini menyarankan untuk tak lupa melengkapi informasi tentang berbagai hal yang sering mengundang kekhawatiran ibu menyusui, misalkan bagaimana mengatasi jika ASI tidak keluar setelah melahirkan atau lain sebagainya.

Ibu hamil dan menyusui juga harus memahami bahwa pada masa kandungan memasuki 16 sampai 22 minggu, hormone produksi ASI sebenarnya sudah keluar namun jumlahnya masih belum banyak.

Hormone tersebut akan bertambah banyak setelah bayi lahir. Saat inilah ibu perlu berusaha inisiasi menyusui dini, paling tidak sekurang-kurangnya satu jam kelahiran, bayi sudah bertemu atau mengenal puting ibu.

“Ada pula pertanyaan bagaimana jika anak setelah lahir harus dibawah ke incubator sehingga tak bertemu dengan ibu. Nah yang perlu dipahami di sini adalah bahwa meskipun ibu tidak menyusui secara langsung selama 3 hari, ASI tersebut tetap keluar. Biasanya hal ini yang kadang membuat ibu tidak yakin dan kurang percaya diri,” jelas dr. Nurita.

Akan tetapi setelah bayi berusia 3 hari ke atas, perlu dilakukan bonding menyusui secara langsung. Jika tidak, maka produksi ASI akan sedikit terhambat karena hal ini perlu adanya rangsangan dari hisapan sang buah hati.

“Jadi waktu krusialnya itu 3 hari ke atas, jadi ibu harus mulai menyusui. Secara teori pun di hari tersebut, produksi ASI bisa mencapai 500-700cc per hari. Jadi nggak usah ragu,” lanjutnya.

dr. Nurita pun mengimbau agar ibu hamil dan menyusui harus mempelajari posisi menyusui yang tepat serta menyiapkan peralatan menyusui. Sebab, keberhasilan menyusui umumnya akan berhasil didukung dengan hal tersebut. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat