Hemodialisa untuk Gantikan Fungsi Ginjal

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Jika ginjal gagal berfungsi, maka dampaknya akan mempengaruhi seluruh tubuh. Sebenarnya, peran ginjal yang telah rusak ini sudah bisa digantikan dengan terapi hemodialisa yang wajib dilakukan secara rutin.

Ginjal berfungsi untuk membentuk zat-zat yang menjaga tubuh tetap sehat. Apabila ginjal sudah tidak berfungsi maka sebagian fungsinya akan diambil alih oleh hemodialisa.

Hemodialisa dibutuhkan ketika ginjal tidak lagi dapat bekerja dengan baik sehingga tubuh memiliki zat-zat yang seharusnya dibuang dari darah atau cairan tubuh.

“Cuci darah merupakan salah satu terapi pengganti ginjal, jadi fungsinya adalah menggantikan fungsi ginjal, baik pada penyakit ginjal yang bersifat akut (kejadiannya mendadak) atau yang bersifat kronik (perjalanan lama dari suatu penyakit),” papar dr. Artaria Tjempakasari, Sp. PD selaku dokter spesialis ginjal Rumah Sakit (RS) Al Irsyad Surabaya.

Fungsi ginjal yang diambil alih oleh hemodialisis antara lain fungsi regulasi cairan, keseimbangan elektrolit, keseimbangan asam basa dan membuang sampah dari tubuh.

Meskipun begitu, menurut pendapat dr. Artaria, apabila hemodialisa tidak dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronik stadium akhir maka komplikasi yang berkaitan dengan kegagalan fungsi ginjal akan terjadi.

“Kondisi tersebut akan memunculkan komplikasi pada pasien seperti halnya sesak, bengkak, kejang, nafsu makan turun sampai tidak bisa makan, kesadaran menurun dan banyak komplikasi yang mengancam jiwa lainnya,” jelasnya.

Alat khusus yang digunakan pada saat hemodialisa berperan sebagai ginjal artifisial atau ginjal buatan yang digunakan untuk membersihkan darah. Dalam melakukan proses tersebut, dokter perlu membuat akses atau jalan masuk ke pembuluh darah pasien, biasanya pada bagian tangan.

Selain membersihkan darah, hemodialisa juga dapat menyingkirkan zat-zat kotor, garam, serta air berlebih yang berada di darah pasien. Selain itu, beberapa zat-zat kimia dalam tubuh juga dijaga keseimbangannya dan menjaga tekanan darah.

Terapi hemodialisa baik bila dilakukan tiga hingga empat kali satu minggu. Banyaknya terapi ini dibutuhkan oleh pasien tergantung pada seberapa baik ginjal seseorang bekerja, seberapa banyak cairan yang didapatkan di antara tiap terapi, seberapa berat badannya, seberapa banyak zat kotor berada di darah, serta tipe alat hemodialisa yang digunakan.

Dokter akan memberikan pasien penjelasan tentang berapa banyak cuci darah yang perlu pasien lakukan dalam satu minggu. Layanan hemodialisa ini pun menjadi layanan unggulan pada tiap rumah sakit yang memiliki unit hemodialisa.

“Bila di RS Al Irsyad, pasien yang menjalani hemodialisis kronik datang ke unit hemodialisis 2 hingga 3 kali per minggu sepanjang hidupnya, sehingga layanan ini sangat membantu pasien,” tutup dr. Artaria. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat