Halusinasi Mencium Bau yang Tidak Ada, Waspada Phantosmia

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Jika Anda pernah mencium aroma tertentu yang sebetulnya tidak ada, seperti dalam satu ruangan tiba-tiba tercium aroma asap rokok padahal tidak ada orang yang merokok, bisa jadi hal tersebut adalah phantosmia. Apa itu phantosmia? mari kita simak ulasannya.

Phantosmia adalah kondisi medis di mana seseorang mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sebagaimana dilansir dari Healthline, para ahli sering menyebut kondisi ini sebagai halusinasi penciuman. Phantosmia biasa muncul sebagai bau-bau tidak sedap, seperti kabel terbakar, bahan kimia, hingga benda-benda busuk atau makanan basi. Kondisi ini bisa terjadi secara sekilas atau bahkan konstan, tergantung masing-masing orang.

Dalam artikelnya, Lorenzo Stanford, pengajar senior di Universitas Portsmouth menuliskan bahwa orang dengan phantosmia sering melaporkan kondisi yang berkaitan erat dengan parosmia. Kondisi ini dapat membuat aroma yang sebenarnya dipersepsikan sebagai sesuatu sangat berbeda, contohnya bau mawar dianggap sebagai kayu manis.

Phantosmia mungkin sebenarnya tidak berbahaya. Namun Stanford berpendapat kondisi ini dapat merujuk pada gangguan psikologis tertentu. Dalam kasus ekstrem, phantosmia dapat dikaitkan dengan depresi dan keinginan untuk bunuh diri. Hal ini karena phantosmia terjadi pada area otak periferal.

Selain mengatur fungsi penciuman area otak periferal juga berkontribusi dalam mengatur pengendalian emosi. Phantosmia juga dapat diakibatkan oleh masalah neurologis. Pada tingkat tertentu, orang yang sering mengalami phantosmia bisa memiliki masalah kesehatan tertentu seperti tumor atau neuroblastoma.

Biasanya, pengalaman pertama phantosmia terjadi antara 15 hingga 30 tahun. Para perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala phantosmia. Kondisi ini juga ditemukan pada sejumlah populasi pasien berbeda, termasuk mereka yang mengalami depresi, migrain, epilepsi dan skizofrenia.

Bagi sebagian orang, pemberian obat yang mengandung antidepresan dan antiepilepsi dinilai cukup efektif dalam mengatasi phantosmia. Sementara itu, dalam laporan Healthline disebutkan pula bahwa gangguan pada penciuman merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami phantosmia. 

Gangguan pada penciuman tersebut bisa disebabkan berbagai kondisi seperti masuk angin, alergi, infeksi sinus, iritasi akibat merokok atau kualitas udara yang buruk, polip hidung, masalah pada gigi, paparan neurotoksin—yang merupakan zat beracun bagi sistem saraf, seperti timbal atau merkuri, dan pengobatan radiasi untuk kanker tenggorokan atau otak. 

Adapun untuk meredakan Phantosmia ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti membilas hidung dengan larutan garam, menggunakan semprotan oxymetazoline untuk mengurangi hidung tersumbat, dan menyemprotan anestesi untuk mematikan sel-sel saraf penciuman. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat