Gedung Baru dan Jembatan Penghubung RS Al Irsyad Surabaya Diresmikan

Gedung baru Rumah Sakit (RS) Al Irsyad Surabaya berlantai 9 beserta jembatan penghubung diresmikan, Sabtu (4/6/2022).

Hadir dalam kegiatan itu Staf Walikota Bidang Hukum Politik dan Pemerintahan, Afghani Wardhana; Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Irvan Widyanto, Asisten Administrasi Umum, drg Febria Rachmanita dan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Serta Pertanahan, Irvan Wahyudradjad.

“RS Al Irsyad mengutamakan warga Surabaya untuk menempati posisi dengan banyak yang bekerja di sini. Juga RS Al Irsyad dan membantu para UMKM dengan menjual produk di sini,” kata Afghani Wardhana.

“Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengapresiasi RS Al Irsyad karena memberdayakan masyarakat dan mengedepankan ekonomi,” tambahnya.

Ketua Pengurus Yayasan Al Irsyad, Muhammad Amin mengatakan gedung baru rumah sakit yang terletak di Jalan KH Mas Mansyur 191 itu menghubungkan dengan gedung pertama yang berdiri di seberangnya atau nomor 210-214 dan 191.

Selain gedung yang baru, RS Al Irsyad juga membangun jembatan penghubung kedua rumah sakit itu.

“Jembatan penghubung ini untuk semua akses pasien baik rawat jalan maupun rawat inap. Dan juga akses petugas yang akan memberikan pelayanan dari gedung lama ke gedung baru ataupun sebaliknya,” ujarnya.

Dijelaskannya, gedung baru berlantai 9 itu terdiri dari ruang operasi di lantai 9, ruang ICU di lantai 8, lantai 7 berisi kamar bersalin dan rawat gabung kelas VIP, lantai 6 dan 5 untuk rawat inap kelas VIP dan SVVIP, lantai 4, 3, 2 untuk pelayanan rawat jalan spesialis.

Untuk lantai 1 terdiri dari ortopedi center atau klinik ortopedi terpadu, dan admisi serta corner cafe. Sedangkan di basement terdapat mushola dan parkir.

Pelayanan yang ada di rumah sakit tipe C ini terbilang lengkap dan bisa melayani pasien BPJS dan umum serta perusahaan dan asuransi.

“Gedung baru ini menimbulkan spirit bagi kami semua terutama memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat dan warga Surabaya Utara khususnya” tegas Muhammad Amin.

Ia menyebutkan, gedung baru yang dibangun pada Januari 2021 itu berada di seberang yang lama. Pihak rumah sakit tidak bisa memperluas lokasi di sebelah kanan dan kiri.

Karena kunjungan masyarakat yang berobat meningkat, membuat manajemen membangun gedung baru beserta jembatan penghubung senilai kurang lebih Rp 7 Miliar.

“Bila tidak ada jembatan penghubung maka akan ada dua rumah sakit atau dua identitas. Jadi kalau satu identitas, harus ada jembatan penghubung, terang dia.

Kalau dibuat rumah sakit sendiri maka Muhammad Amin menyebutkan fasilitas akan berkurang.

“Ada ruang UGD lagi, ICU lagi. Berarti dari nol lagi kan. Kalau dengan jembatan penghubung ini, otomatis kita menjadi satu,” ujarnya.

Menurutnya, jembatan penghubung dibangun dikhususkan untuk transportasi pasien.

“Pasien yang menggunakan kursi roda, tempat tidur atau bed untuk operasi atau perawatan melewati jembatan penghubung ini. Bila tidak ada jembatan penghubung, maka pasien akan resiko di jalan raya. Tidak mungkin kita menyeberangkan pasien tempat tidur melewati jalan raya,” tandasnya. (Sdi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat