Inilah Gaya Hidup Sedentari yang Berbahaya

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Sebagian orang pada umumnya hidup dengan gaya hidup monoton. Berangkat untuk beraktivitas, pulang dari beraktivitas, dan ditutup dengan istirahat tanpa diselingi dengan beberapa aktivitas fisik. Inilah yang disebut gaya hidup sedentari.

Gaya hidup sedentari timbul karena kehadiran dan perkembangan teknologi yang terus menerus membanjiri. Kemudahan yang didapat membuat orang-orang lebih minim melakukan aktivitas fisik. Para pekerja umumnya akan menghabiskan setengah hari di kantor di balik meja.

Duduk tanpa melakukan aktivitas apapun justru malah dapat menimbulkan penyakit seperti, otot kaku hingga masalah pada tulang belakang.

Perilaku seperti ini pun makin hari tidak hanya menjangkiti orang-orang kantoran, namun juga orang-orang di dalam rumah. Sebagian orang akan banyak menghabiskan waktu di rumah dengan menonton televisi, bermain gawai, dan lainnya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh University of Central Florida di Orlando, Amerika Serikat pada 2019, mengungkap fakta bahwa duduk di depan televisi terlalu lama dapat berbahaya bagi kesehatan jantung.

Lalu, dalam jurnal yang diterbitkan oleh Journal of American Heart Association juga setuju bahwa, orang yang duduk dalam jangka waktu lama di depan televisi dapat berisiko terserang penyakit menular.

Dalam jurnal tersebut, para peneliti melakukan observasi terhadap para peserta penelitian selama 8,4 tahun. Dalam hasil observasinya, mereka menulis, dibandingkan orang-orang yang menonton televisi kurang dari 2 jam sehari, orang-orang yang menonton televisi lebih dari 4 jam sehari berisiko sebesar 49 persen untuk meninggal karena penyakit kardiovaskular.

Berbagai macam kemudahan yang diusung oleh teknologi-teknologi mutakhir membuat orang-orang cenderung minim beraktivitas fisik. Mulai dari layanan transportasi, layanan rumah tangga, pesan antar makanan menjamur dewasa ini.

Semakin minimnya aktivitas fisik maka semakin besar pula risiko penyakit kardiovaskular yang terjadi. Minimnya aktivitas fisik juga terkait dengan terjadinya sindrom metabolik dalam tubuh. Dan sindrom ini jelas dapat menyebabkan seseorang terserang penyakit metabolik seperti, jantung koroner, diabetes mellitus tipe 2, dan stroke.

“Platform digital seperti, transportasi, pekerjaan rumah tangga, hingga makanan makin memudahkan orang-orang. Hal ini dapat menyebabkan perubahan gaya hidup dan berisiko menimbulkan penyakit yang tidak menular,” ungkap dr. Chaerul Effendi, Sp.PD(K)., seorang dokter spesialis penyakit dalam RS Al Irsyad Surabaya.(ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat