Demensia Tak Hanya Hantui Usia Tua, Penting Terapkan Gaya Hidup Sehat

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Seiring bertambahnya usia, fungsi-fungsi organ manusia mengalami penurunan. Pada otak, penurunan fungsi ini dapat berakibat pada demensia atau kepikunan. Usia pun tercatat menjadi faktor utama terjadinya demensia, namun tak menutup kemungkinan, hal ini terjadi di usia yang lebih muda.

Kepikunan sering terjadi pada orang-orang yang berusia di atas 65 tahun. Demensia adalah bentuk kepikunan dengan faktor yang tidak wajar dan melalui beberapa tahap. Demensia juga memungkinkan terlihat gejalanya pada usia di bawah 65 tahun.

“Demensia dapat menyerang orang-orang di rentang usia 40 hingga 50 tahun. Tahap ini disebut early onset dari demensia,” jelas dr. Deby Wahyuning Hadi, Sp.S, Dokter Spesialis Saraf RS Al Irsyad Surabaya dalam Bincang Medika bersama Suara Muslim Network Surabaya, Sabtu (17/10) .

Tiap 1 dari 14 orang di dunia dengan usia di atas 65 tahun mengidap demensia. Demensia yang paling parah dapat menyebabkan pengidapnya mengalami ketergantungan terhadap orang lain. Proses hingga mengalami derajat berat ini pun tidak singkat, menurut dr. Deby, bisa 10 hingga 12 tahun.

Meski begitu, demensia dapat diperiksa dan diintervensi sejak dini. Demensia tidak bisa disepelekan. Orang-orang sering menyepelekan demensia karena dianggap lupa yang wajar karena faktor usia. Lupa yang wajar tidak akan terjadi sesering demensia.

Sedangkan pada demensia, lupa yang terjadi itu singkat namun sering. “Misalnya, ketika orang dengan demensia menaruh suatu benda. 1 atau 2 jam setelahnya bisa lupa, dan ini sering terjadi,” katanya.

Gaya Hidup Sehat dapat Kurangi Faktor Risiko Demensia

Ada beberapa cara untuk mengurangi risiko dari demensia. Cara yang pertama, menjaga gaya hidup sehat. Poin ini menjadi kewajiban bagi siapapun, karena untuk menjaga diri dari penyakit dimulai dengan menjaga gaya hidup sehat. Orang-orang yang memiliki gangguan organ, gula darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit lain akibat gaya hidup tidak sehat, dapat berpotensi mengalami penurunan fungsi kognitif.

Cara yang kedua, olahraga dan tetap produktif. Meski usia sudah tak lagi muda, olahraga dan tetap bergerak aktif serta produktif juga menjadi cara untuk meminimalisasi risiko demensia. “Ada suatu penelitian yang mengungkap fakta tentang senam poco-poco. Senam tersebut membuktikan dapat mengurangi faktor risiko demensia,” ungkap dr. Deby .

Lalu, cara yang ketiga adalah dengan diet makan. Diet yang dimaksud dr. Deby adalah dengan mengatur konsumsi makanan agar memiliki gizi yang seimbang. Diet yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor risiko ini adalah diet meditterania. Diet ini telah diteliti dan terbukti mengurangi faktor risiko demensia.

“Diet ini membuat orang-orang lebih banyak mengonsumsi sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, ikan-ikanan, dan sayur-sayuran. Tentunya, makanan dengan tinggi lemak jenuh, gula, dan garam juga harus dihindari,” tandas wanita yang bertanggung jawab di Klinik Memori RS Al Irsyad Surabaya itu.

Kemudian, cara lainnya yaitu dengan tetap melatih dan membuat otak aktif. Hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan aktivitas rumahan yang berbeda tiap harinya. Namun, juga perlu diperhatikan agar aktivitas ini dilakukan sesuai kemampuan.

“Dan hal terakhir adalah bersosialisasi. Ini tak kalah penting karena bersosialisasi dengan orang lain membuat sel-sel otak tetap aktif dan dapat mengurangi faktor risiko demensia,” tutupnya. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat