Berpikir Positif, Kunci Atasi Panik di Tengah Pandemi

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Banyak orang yang merasa cemas dan panik dalam menghadapi kasus COVID-19. Apalagi banyak berita yang menyiarkan tentang jumlah kasus yang terus bertambah. Daripada terus menerus cemas dan panik, lebih baik tetap berpikir positif, yang disebut para ahli sebagai kunci untuk dapat melewati masa krisis saat ini.

Psikolog Anak dan Keluarga, Samanta Ananta, M.Psi memaparkan, kecemasan yang dialami oleh seseorang akan berdampak pada aktivitas harian. Munculnya rasa cemas dapat mempengaruhi bagian otak prefrontal cortex. Ini merupakan bagian di otak yang berfungsi menyusun perencanaan, logika berpikir, rasionalisasi dan pertimbangan konsekuensi, serta pengaturan atensi dan mengatasi suatu hal.

Bila seseorang terlalu memfokuskan diri pada rasa cemas akan kabar-kabar mengenai kasus virus korona tersebut, maka mereka akan terjebak dalam kecemasan dan sulit menemukan solusi. Untuk itulah, Samanta menyarankan tiap orang selalu berpikir jernih dan positif.

“Maka perlu untuk berpikir jernih dan positif. Faktanya, berpikir positif adalah sumber daya utama bagi manusia selama menghadapi sebuah krisis, termasuk menghadapi pandemi virus korona saat ini,” jelasnya dilansir dari Kompas.

Ia pun memaparkan berbagai efek baik bagi kesehatan tubuh saat seseoarang berpikiran jernih dan positif.

Mempercepat Pemulihan Kardiovaskular

Pemulihan kardiovaskular adalah detak jantung yang lebih rendah dan tekanan darah yang stabil. Bila seseorang mengalami emosi positif di balik peristiwa yang membuat stres, maka akan lebih mudah bangkit dan memiliki waktu pemulihan kardiovaskular lebih cepat.

Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Sebuah penelitian tentang orang-orang yang terinfeksi virus influenza dan rhinovirus mengungkapkan, bahwa mereka yang memiliki emosi lebih positif akan dapat melawan gejala-gejala virus tersebut dengan mudah.

Bahkan dalam penelitian tesebut diungkapkan bahwa orang yang memiliki pikiran positif lebih rendah dapat memungkinkan mereka 2,9 kali terkena penyakit pernapasan. Untuk itulah berpikiran jernih dan positif perlu dilakukan, apalagi bila ingin meningkatkan kekebalan tubuh.

Panik dan cemas sendiri, menurut Ibnu Sina, adalah separuh daripada penyakit itu sendiri. Oleh karena itu, Ibnu Sina menasihati agar kita tidak mudah panik. Panik tidak hanya bisa muncul karena ada bahaya yang secara nyata memang mengancam, tetapi juga bisa karena berpikir terlalu buruk dan tidak rasional alias mengkahayal. Karena itulah, kepanikan menjadi bagian dari separuh penyakit.

Ibnu Sina menekankan perlunya orang memiliki ketenangan, baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Dalam keadaan sehat, orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak mudah terserang oleh berbagai-penyakit jasmani dan rohani, sebab ketenangan itu sendiri merupakan benteng sehingga memiliki imunitas yang kuat.

Selain itu, kesabaran pun perlu dipertebal. Ini karena kesabaran dapat diibaratkan sebagai jamu. Ia memiliki rasa pahit, namun akan menampakkan hasil yang manis. Kesabaran adalah hal yang luas, namun ternyata salah satu buah dari kesabaran itu sendiri, menurut Ibnu Sina, adalah bentuk awal kesembuhan.

Hal ini berkaitan dengan teori Ibnu Sina yang memberikan keseimbangan terhadap teori yang telah mapan sebelumnya, yakni bahwa kesehatan jiwa bergantung pada kesehatan badan. Dalam bahasa Latin, teori ini berbunyi: Mens sana in corpore sano, yang berarti “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” (Gth/nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat