Berdampak Buruk, Waspadai Bahaya Daging Olahan

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Konsumsi daging olahan di masyarakat masih tinggi. Selain lebih instan dan praktis, daging olahan banyak dipilih karena rasanya yang lezat. Namun beberapa pakar dan Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperingatkan akan bahaya kesehatan dari daging olahan.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) beberapa hari lalu menambahkan daging olahan ke dalam daftar kandungan yang kemungkinan menyebabkan kanker alias karsinogenik. Bacon, sosis, daging ham, daging kalengan, dan sebagainya, dianggap memicu kanker pada manusia.

“Kami melihat peningkatan empat persen dalam risiko kanker bahkan pada 15 gram sehari, yang merupakan sepotong ham pada sandwich,” kata Dr Nigel Brockton, direktur penelitian untuk American Institute for Cancer Research, dilansir Channel News Asia. Menurut kajian 2011, mengonsumsi 50 gram daging olahan yang lebih khas dalam sehari akan meningkatkan risiko kanker kolorektal sebesar 18 persen.

International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga riset kanker di bawah WHO dilansir dari Kompas menjelaskan bahwa dalam daging olahan terdapat zat kimia yang ditambahkan yakni nitrit. IARC mengelompokkan nitrat dan nitrit ke dalam “kemungkinan karsinogen pada manusia” karena saat daging yang memiliki kandungan zat itu digoreng atau dibakar di suhu tinggi, bisa berubah menjadi N-nitroso, seperti nitrosamin, yang memang bersifat karsinogen yang memicu penyakit kanker.

Statement tersebut telah terbuktikan. Berdasarkan temuan yang diterbitkan dalam jurnal JAMA, di Amerika, mayoritas kematian masyarakat (lebih dari 700 ribu) di sana akibat penyakit jantung, stroke dan diabetes, yang dipicu gaya hidup tak sehat tersebut (terlalu banyak konsumsi daging olahan, soda dan sedikit konsumsi kacang-kacangan).

Waspadai Klaim Bahan Alami Tanpa Nitrat

Beberapa produk yang mengklaim daging olahannya alami atau organik mungkin mengatakan daging diproses tanpa nitrit atau nitrat. Label mungkin mengatakan bahan tersebut tidak memiliki pengawet buatan atau tidak diawetkan.

Tetapi ahli gizi memperingatkan bahwa produsen makanan mungkin masih menambahkan bubuk sayuran atau jus seperti jus seledri atau jus bit yang mengandung nitrat alami, yang dikonversi menjadi nitrit baik dalam makanan itu sendiri atau ketika mereka berinteraksi dengan bakteri dalam tubuh kita.

“Rata-rata orang pergi ke toko dan melihat klaim seperti ‘organik’, ‘alami’ atau ‘tidak ada nitrat atau nitrit tambahan’, dan mereka menganggap daging-daging itu lebih aman, dan itu tidak,” kata Bonnie Liebman, direktur nutrisi di Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum, kelompok advokasi keamanan pangan, dilansir dari Republika.

Dilansir dari Tempo, dalam sebuah studi, peneliti menemukan kebanyakan mereka yang meninggal juga kurang mengonsumsi asam lemak omega-3, buah-buahan dan sayuran.

Salah satu penulis studi Renata Micha mengatakan garam berhubungan dengan hampir 10 persen kematian. Sementara terlalu sedikit kacang-kacangan, biji-bijian dan seafood menyumbang sekitar 8 persen.

Daging olahan yang dimaksud antara lain sosis, hot dog, salami, daging kornet, dendeng, dan ham. Semua makanan mengandung garam tambahan atau bahan pengawet untuk meningkatkan citarasanya, selain itu lemak jenuh tinggi.

Oleh karenanya ada baiknya bila kita mencoba untuk mengurangi konsumsi daging olahan. Sebab berdasar riset, walaupun sedikit, namun konsumsi daging olahan tetap berbahaya dan berkontribusi atas penyakit kanker. (Din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat