Berbuka Puasa dengan Air Dingin atau Hangat, Mana yang Lebih Baik?

Rsalirsyadsurabaya.co.id Pada bulan Ramadan, ketika berbuka puasa, sebagian orang akan memilih berbuka dengan jenis minuman dingin atau bisa saja minuman hangat. Lantas, kira-kira manakah dari kedua pilihan tersebut yang baik bagi kesehatan?

Mengonsumsi minuman dingin memang sering dipilih saat berbuka puasa. Pasalnya, banyak orang yang cenderung ingin mengonsumsi yang segar-segar setelah berpuasa seharian untuk melepas dahaga.

Namun, ada pula beberapa orang yang merasa kalau rasa hausnya hanya bisa terobati dengan mengonsumsi minuman hangat saat buka puasa. Terlebih, mereka menganggap minuman hangat lebih nyaman bagi perut yang kosong seharian.

Ahli Penyakit Dalam, dr Tengku Bahdar Johan, SpPD, dari RS Premier Bintaro menjelaskan, bahwa sebaiknya buka puasa dengan minum air hangat. Ini karena air hangat dapat membantu saluran cerna bekerja lebih baik dengan menjaga aliran di pembuluh darah tetap lancar.

Selain itu, minuman dingin meski menyegarkan, juga dapat membuat pembuluh darah jadi menciut. Sehingga dampaknya gerakan peristaltik bisa jadi terpengaruh. Gerakan tersebut adalah gerakan yang terjadi pada otot-otot di saluran pencernaan, yang berfungsi mendorong makanan di dalam tubuh.

“Minum es dapat menciutkan pembuluh darah, akibatnya gerakan peristaltik menjadi terganggu. Itu sebabnya ada orang yang habis minum es, perutnya langsung terasa tidak enak karena pembuluh darahnya menciut,” jelasnya dilansir dari Kompas.com.

Oleh sebab itu, dr Bahdar menyarankan untuk tidak langsung meminum air dingin serta jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, terutama untuk orang yang diabetes saat berbuka puasa. Bila ingin yang manis, pilihlah rasa manis dari buah seperti kurma.

Sementara itu, Prof. Hardinsyah, Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia dan Guru Besar Ilmu Gizi FEMA IPB juga memaparkan pendapatnya tentang konsumsi air dingin dan air hangat ketika berbuka puasa.

Menurutnya, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan jika air dingin bersuhu 15-20 derajat celsius bisa membuat seseorang menjadi lebih banyak minum. Apalagi, jika lidah dan tenggorokan memang sudah terbiasa dengan air dingin.

Sebuah studi yang dilakukan oleh United States Army di tahun 1989 juga menemukan, minum air hangat bersuhu 40 derajat celsius cenderung membuat orang minum lebih sedikit. Akibatnya, asupan air akan berkurang.

“Dingin bukan berarti es, ya. Kalau es itu 0-5 derajat celsius, kalau dingin di atas 10 derajat, dan masih di bawah suhu tubuh. Suhu dingin ini bisa meningkatkan konsumsi air, supaya lebih menghidrasi tubuh,” ungkapnya dalam sesi Ceramah dan Diskusi Seputar Makanan, Minuman, Kesehatan Ramadhan dan Lebaran Lini Sehat dikutip dari Detik.com.

Akan tetapi, ia menegaskan bahwa semua tergantung pada kebiasaan masing-masing. Kalau memang lebih menyukai minuman hangat, usahakan suhunya tak lebih dari 40-45 derajat celsius. Pilih jenis minuman yang memiliki pH di atas 7, dan tak mengandung asam.

Dengan begitu, menu buka puasa yang dikonsumsi tak hanya untuk melepas dahaga saja, tetapi juga bisa mengembalikan nutrisi tubuh yang hilang dengan cepat. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat