Benarkah Konsumsi Gula Terlalu Banyak Sebabkan Anak Hiperaktif?

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Sering kali, usia anak-anak memang sangat menyukai makanan yang manis, seperti permen, donat, es krim, dan lain sebagainya. Dari kebiasaan tersebut, banyak orang tua yang percaya jika anak terlalu banyak mengonsumsi gula maka dapat membuat anak menjadi hiperaktif. Benarkah demikian?

Sebenarnya, kepercayaan tersebut hanyalah mitos belaka yang dipercaya secara turun temurun dari generasi ke generasi. Sebuah data ilmiah yang ada justru memperlihatkan bahwa gula tak memberikan pengaruh apa pun terhadap perilaku anak.

Sejumlah penelitian mencoba membuktikan hal tersebut. Pada 1995, JAMA Network menerbitkan meta-analisis yang mengulas 16 karya ilmiah yang sudah ada sebelumnya. Penulis menyimpulkan, gula terutama sukrosa tidak memengaruhi perilaku atau kinerja kognitif anak.

Meski demikian, peneliti juga mengungkapkan masih ada sedikit efek yang diberikan gula terhadap perilaku anak. Dalam hal ini, anak dengan kondisi tertentu akan merespons gula dengan cara yang berbeda.

Penelitian tersebut melakukan pengujian terhadap dua kelompok anak berusia 6-10 tahun. Melansir dari CNN, sebanyak 23 anak dilaporkan orang tuanya memiliki sensitivitas terhadap gula, sementara orang tua dari 25 anak lainnya tidak melaporkan demikian.

Setiap keluarga menjalani tiga diet secara bergantian selama tiga pekan. Ketiga diet itu di antaranya:

– tinggi sukrosa, tanpa pemanis buatan

– rendah sukrosa, tapi menggunakan aspartam sebagai pemanis

– rendah sukrosa, tapi menggunakan sakarin (plasebo) sebagai pemanis.

Diet makanan di atas harus bebas dari pewarna makanan buatan dan pengawet. Setiap pekan, para ilmuwan memeriksa perilaku dan kinerja kognitif anak.

Dari pengujian tersebut, hasil yang didapat oleh peneliti adalah tidak adanya perbedaan signifikan yang dihasilkan ketiga jenis diet di atas terhadap perilaku anak yang dilaporkan memiliki sensitivitas gula.

Selain studi di atas, ada pula beberapa penelitian lain yang juga memperlihatkan hal yang sama, bahwa konsumsi gula tak berpengaruh terhadap perilaku anak. Lantas, mengapa kepercayaan mengenai konsumsi gula dapat membuat anak hiperaktif bisa bertahan di tengah masyarakat?

Hal ini bermula dari seorang ilmuwan Theron G Randolph yang menerbitkan sebuah makalah yang membahas peran alergi makanan terhadap perilaku anak pada 1947 silam. Di antara faktor-faktor yang dicantumkan, Randolph menyebutkan bahwa kepekaan terhadap gula jagung memicu kelelahan dan ketegangan pada anak, yang gejalanya meliputi rasa lelah dan mudah tersinggung.

Begitu pula dengan kasus pada 1970-an, gula disalahkan atas adanya hipoglikemia atau penurunan gula darah setelah makan yang mengakibatkan gejala seperti cemas, bingung, dan mudah tersinggung.

Dari kedua temuan tersebut, akhirnya menjadi dasar pemikiran bahwa gula dapat memengaruhi perilaku anak. Namun, tak ada teori ilmiah yang benar-benar menunjukkan bahwa konsumsi gula dapat menyebabkan hiperaktif pada anak.

Hingga saat ini, para ilmuan percaya jika hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kondisi hiperglikemia atau lonjakan gula darah setelah mengonsumsi makanan manis. Sehingga menimbulkan gejala meliputi rasa haus, sering buang air kecil, kelelahan, lekas marah, dan mual. (Gth)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat