Begini Penjelasan Risiko Fibrosis Paru yang Dapat Dialami Pasien Sembuh COVID-19

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Pasien positif COVID-19 yang berhasil sembuh berisiko disebut mengalami penurunan pada fungsi paru-paru atau yang juga disebut sebagai fibrosis paru. Risiko ini utamanya terjadi pada pasien yang mengalami pneumonia berat.

Fibrosis paru, seperti melansir laman web resmi Perhimpunan Dokter  Paru Indonesia (PDPI) merupakan keadaan munculnya jaringan parut pada paru-paru yang menyebabkan kerusakan dan terganggunya fungsi paru-paru. Kerusakan ini menyebabkan jaringan di sekitar kantung udara di dalam paru-paru (alveolus) menebal dan kaku.

Keadaan ini membuat oksigen sulit untuk masuk ke dalam darah sehingga penderitanya sulit bernapas dan menyebabkan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Pada akhirnya, dapat terjadi gagal napas, gagal jantung, atau komplikasi lainnya.

Sebagai perbandingan, orang dewasa sehat mengembuskan 15 napas per menit ketika beristirahat, sementara orang dewasa dengan fibrosis paru mengembuskan 25 napas per menit ketika beristirahat.

“Fibrosis akan menganggu pertukaran karbon dioksida dan oksigen, jadi fungsi parunya akan turun,” ujar Sekertaris Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dr. Erlang Samadro, Sp.P pada Senin (18/5) dalam webinar bertajuk COVID-19, Peneliti, dan Dokter.

Dia menjelaskan, seberapa besar kerusakan yang terjadi pada paru-paru akibat fibrosis bergantung pada seberapa luas virus korona baru tersebut telah menginfeksi paru-paru. Kondisi ini disebut sebagai gejala sisa atau sequelae.

“Itu gejala sisa dari infeksi, dan berapa besarnya itu bergantung pada berapa luas infeksinya,” jelasnya seperti mengutip Kompas.

Meski demikian, dr. Erlang menyampaikan, pasien COVID-19 dengan gejala ringan kemungkinan besar tidak akan mengalami gejala sisa seperti fibrosis paru. Gejala-gejala sakit akibat infeksi virus pun akan hilang setelah sembuh.

Namun, pasien yang mengalami gejala berat COVID-19 akan berpotensi mengalami fibrosis paru. Mereka ini kemungkinan akan terus mengalami permasalahan napas seumur hidupnya. Hal ini bisa terjadi karena fibrosis paru bersifat irreversible atau paru-paru tak bisa kembali ke kondisi normal.

“Kalau sudah sampai taraf fibrosis itu selamanya, karena fibrosis itu seperti bekas luka, jadi berbekas,” imbuh dr. Erlang.

Pengobatan Fibrosis Paru

Kerusakan paru-paru pada kondisi yang dalam istilah medis disebut idiopathic pulmonary fibrosis (IPF) ini hanya dapat diperlambat dan dikurangi dampak dari gejalanya dengan pemberian obat-obatan dan melakukan rangkaian terapi. Apabila terapi konvensional dengan obat-obatan gagal, transplantasi paru pun juga mungkin akan direkomendasikan.

Pada beberapa orang, perawatan fibrosis paru dapat membawa pengaruh yang baik sehingga mereka dapat tidak terganggu oleh gejala dari kondisi ini hingga bertahun-tahun lamanya. Namun, ada juga yang kondisinya memburuk dengan cepat, karena fibrosis paru memang termasuk salah satu jenis penyakit yang dapat bertambah parah seiring waktu. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat