Begini Pendapat Pakar Tentang Diet Tanpa Nasi

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Demi mendapatkan tubuh yang diinginkan, banyak orang berdiet. Salah satunya adalah diet tanpa nasi yang sering dilakukan oleh para artis papan atas. Namun, apakah diet ini aman?

Dewasa ini, berbagai jenis diet bermunculan untuk membantu orang-orang mendapat tujuan yang diinginkan. Ada diet intermittent fasting yang membatasi jam makan, diet keto yang menganjurkan konsumsi karbohidrat dan lemak bergantian, dan diet tanpa nasi yang pernah dijalan oleh Juwita Bahar selama 10 tahun hingga berujung koma.

Banyak orang beranggapan bahwa karbohidrat menjadi musuh utama dalam berdiet. Padahal, ini tak sepenuhnya benar. Karena, kondisi tubuh tiap orang berbeda.

“Untuk satu hal, setiap orang berbeda dan tidak akan mendapat hasil yang sama pada diet rendah karbohidrat,” kata Ashley Koff, ahli diet dan pendiri Nutrition Program, dikutip dari Cnet (10/4).

Ia pun menyarankan pada orang yang hendak berdiet tanpa nasi untuk berkonsultasi dengan ahli gizi terlebih dahulu. Karena sebenarnya ada beberapa alasan mengapa diet tanpa karbohidrat tidak disarankan.

“Diet yang sehat dan aman itu acuannya prinsip gizi seimbang. Meliputi, konsumsi sumber pokok, lauk pauk, buah dan sayur, batasi makanan manis dan berminyak, minum air putih yang cukup, dan meningkatkan aktivitas fisik,” tambah Nur Ulfah A.Md.Gz, nutrisionis RS Al Irsyad Surabaya.

Kehilangan nutrisi utama

Karbohidrat adalah sumber nutrisi utama dalam tubuh. Karbohidrat dapat mendukung fungsi-fungsi tubuh berjalan dengan optimal, serta mendukung metabolisme tubuh. Jika kekurangan, maka tubuh akan kekurangan nutrisi.

Kurang serat

Serat terdapat pada nasi, biji-bijian, buah, dan sayuran. Serat memainkan peran kunci dalam pencernaan, kesehatan jantung, dan juga usus. Serat juga bisa membantu merasa kenyang lebih lama, jadi baik untuk dicoba dalam menunjang berat badan.

Baik untuk otak dan membangun otot

Sumber energy otak adalah karbohidrat. Setiap harinya otak mengonsumsi karbohidrat sekitar 120 gram dan menyumbang sekitar 20 persen dari total energi yang dibakar dalam sehari.

Di sini lain, banyak orang mengonsumsi protein untuk membangun otot. Tapi, karbohidrat juga tak kalah penting karena baik untuk membangun otot.

Penyebab food disorder

Jika menjalani diet tanpa nasi atau mengurangi asupan karbohidrat cukup banyak, bisa saja kamu akan mengalami pola makan yang tidak teratur. Bahkan bisa menyebabkan gangguan pada pola makan.

Gangguan pada pola makan atau food disorder yang kerap dialami adalah ortoreksia nervosa, di mana kondisi itu bisa membuat seseorang terobsesi pada pola makanan sehat yang berkembang menjadi kelainan.

“Tubuh kita tetap butuh karbohidrat. Sumber karbohidrat ini banyak, tak selalu nasi. Menghindari nasi boleh dalam diet, asal ada pengganti sumber karbohidrat yang lain seperti, roti gandum dan umbi-umbian,” pungkas Ulfah.

“Dan, tetap jaga asupan kalori kita sesuai kebutuhan gizi. Angka kebutuhan tersebut di kisaran 1.200-2.000 kalori per hari,” lanjutnya.

Untuk informasi pelayanan Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya, dapat menghubungi 03199091800/03199091700 atau WhatsApp 081216514916.

Pendaftaran pasien secara online melalui website dapat dilakukan di sini atau melalui aplikasi Pendaftaran Online RS Al Irsyad Surabaya yang dapat diunduh terlebih dahulu di http://bit.ly/mobileapprsalirsyad. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat