Begini Cara Atasi Gangguan Kesehatan Mental Bagi Penyintas COVID-19

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Meski hingga hari ini telah banyak orang yang selamat dari COVID-19, ternyata belum tentu mereka aman dari gangguan kesehatan mental sebagai survivor.

Berdasarkan penelitian yang terbit dalam jurnal The Lancet Physiciatry, beberapa penyintas COVID-19 menunjukkan gejala gangguan kesehatan mental. Mereka meneliti para penyintas tersebut selama 90 hari setelah diagnosa.

Gangguan mental yang paling umum ditemukan adalah kecemasan, depresi, hingga kesulitan tidur atau insomnia. “Kami khawatir, orang yang selamat dari COVID-19 akan berisiko lebih besar mengalami kesehatan mental,” terang Paul Harrison, Profesor Psikiatri dari Britain’s Oxford University, dikutip dalam Republika.

Ia mengimbau agar dokter dan peneliti lain segera menyelidiki penyebab dan mengidentifikasi perawatan baru pada kasus ini. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa catatan kesehatan ari 69 juta orang di Amerika Serikat (AS).

Setelah tiga bulan dites positif COVID-19, satu dari lima orang yang selamat memiliki diagnosa kecemasan, depresi, dan insomnia. Hal tersebut dua kali lebih mungkin dibanding kelompok lain dalam periode yang sama.

Kemudian, studi tersebut juga menemukan bahwa orang dengan penyakit mental sebelumnya, 65 persen lebih berpotensi didiagnosa COVID-19. Konsultan psikiater dari University College of London, Michael Bloomfield mengungkapkan bahwa hasil penelitian tersebut membuktikan, COVID-19 juga berpengaruh ke otak dan pikiran.

“Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kombinasi stress psikologis yang terkait dengan pandemi dan efek fisik penyakit tersebut,” jelasnya.

Di sisi lain, Pakar Psikiatri Regius dari King’s College London, Simon Wessely berpendapat, temuan yang mengatakan mereka yang memiliki gangguan kesehatan mental, juga berpotensi lebih tinggi terserang COVID-19.

“COVID-19 mempengaruhi sistem saraf pusat dan dengan demikian dapat secara langsung meningkatkan gangguan selanjutnya. Tapi, penelitian itu menegaskan itu bukan cerita keseluruhan, dan penyakit tersebut dapat meningkatkan risiko sakit yang telah diderita sebelumnya,” tandasnya.

Selamatkan Kesehatan Mental dengan Cara Berikut

Hal pertama untuk menjaga kesehatan mental pasca sembuh dari COVID-19, menurut dr. Azimatul, kita harus mengenali diri sendiri terlebih dahulu. “Banyak orang tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka tidak tahu apa diri mereka tipe pencemas, gampang stres di ruangan tertutup, gampang stres jika tidak bertemu orang lain, dan lain-lain,” katanya.

Dalam pemaparannya, ia mengungkapkan bahwa tiap orang mempunyai titik lemahnya masing-masing. Titik lemah inilah yang harus dikenali dahulu oleh seseorang. Dalam situasi seperti pandemi ini, titik kelemahan kita sedang diuji.

Misalnya, pada seorang individu yang menemukan energinya ketika bertemu dengan lingkungan sosialnya. Dalam kondisi seperti sekarang, hal-hal tersebut pasti dikurangi. Karena, demi menghindari penularan COVID-19, kerumunan seseorang menjadi hal yang dilarang.

Maka, mau tidak mau, hal tersebut harus diganti dengan kegiatan yang lebih aman tanpa menghilangkan esensi sosial yang telah terbentuk sebelumnya. Disinilah, pentingnya seorang individu mengenali titik lemah diri sendiri terlebih dahulu.

“Banyak hal yang dulunya bisa buat kita seimbang, namun sekarang tidak bisa kita lakukan. Disinilah, kita harus mulai eksplorasi diri. Mencari kegiatan atau strategi apa di rumah yang tepat untuk membuat mental kita tetap terjaga,” imbuh dokter spesialis kejiwaan RS Al Irsyad itu. (ipw)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat