Begini 5 Fase Klinis Pasien COVID-19 Hingga Dinyatakan Meninggal

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Bidang Penelitian Translasional, David Handojo Muljono menyatakan ada lima perjalanan klinis pasien COVID-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2. Dalam pemaparannya, ia pun mengatakan bahwa setiap fasenya memiliki ciri yang berbeda-beda.

Pada fase pertama, David mengatakan adalah fase yang disebut dengan fase tanpa gejala. Pada fase ini, virus SARS-CoV-2 masuk ke dalam tubuh untuk melakukan inkubasi dan berkembang. “Memasuki fase klinis yang kedua adalah fase dini,” imbuh David dalam diskusi virtual, Kamis (14/5) mengutip CNN.

Pada fase dini, David menuturkan terjadi gejala yang tidak spesifik, seperti demam, sakit kepala, batuk (dengan atau tanpa produksi sputum), anoreksia, malaise, nyeri otot, sakit tenggorokan, sesak, kongesti hidung, diare, mual, atau muntah.

Selanjutnya pada fase sedang, David menyampaikan peran virus SARS-CoV-2 mulai berkurang. Akan tetapi, dia menyebut mulai muncul inflamasi atau radang, di mana yang diaktifkan adalah sistem imun tubuh. Khusus pada pasien remaja atau dewasa, dia berkata bisa tidak mengalami pneumonia.

“Ini harus diawasi karena pasien ini sudah termasuk pasien yang harus diobati. Dianjurkan dirawat di rumah sakit,” ujarnya.

Dalam fase sedang, David merinci aktivasi sistem imun yang mulai terjadi adalah antigen presentation keluar seluruhnya. Kemudian cellular immunity menjadi hidup dan mulai membentuk humoral immunity yang menjadi indikator untuk melakukan IgM (Immunoglobulin M) dan IgG (Immunoglobulin G).

Masuk pada fase berat, David membeberkan ditandai lewat hiperinflamasi atau radang hebat, di mana respons imun menjadi dominan. Penderitaan pasien di sini justru dikarenakan hiperinflamasi tersebut, bukan karena virus SARS-CoV-2 itu sendiri.

Pada fase ini, David mengingatkan petugas medis harus mengawasi pasien remaja/dewasa yang mengalami gejala pneumonia disertai dengan frekuensi meningkatnya pernapasan lebih dari 30 kali per menit, distress pernapasan berat, hingga saturasi oksigen kurang dari 93 persen.

“Dan pasien anak (mengalami) batuk dengan kesulitan bernapas, distress pernapasan berat, dan tanda pneumonia berat misalnya tidak mau makan atau penurunan kesadaran berarti dia sudah masuk fase berat ini,” papar David.

Pada fase ini David menjelaskan, bahwa SARS-CoV-2 menyerang paru-paru karena Angiotensin converting enzyme 2 (ACE2) diblok oleh virus dan mengalami penurunan. Pada situasi tersebut, Angiotensin converting enzyme 1 (ACE1) pun mengalami peningkatan dan membuat enzim bekerja hingga terjadi kebocoran Alveoli.

“Ini karena permeabilitasnya meningkat akibat ACE2 tersebut,” ujarnya.

Selain paru-paru, dia mengatakan SARS-CoV-2 merusak endotel yang kemudian menimbulkan racun dan membuat hipertensi, mengaktifkan diabetes, gangguan neurologi, gangguan ginjal, dan trombosis. Adapun hipertensi tubuh pada sistem kardiovaskular diawali dengan perikatan spike protein pada ACE-2 reseptor, yang diikuti inflamasi masif, reaksi endotel, berbagai gangguan metabolik, dan koagulasi.

“Sebagai catatan, pada fase itu sudah tidak bicara tentang virus, tapi adalah dampak karena sistem imun menjadi kacau,” imbuhnya.

Sedangkan kondisi yang paling ditakutkan dari infeksi SARS-CoV-2, kata David adalah terjadinya Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Dia menyebut, situasi itu adalah di mana paru-paru sudah tidak bisa bekerja meski dengan dukungan ventilator, “Itu terjadi karena salah satunya alveoli sudah berubah dilapisi membran hialin,” tambahnya.

Kondisi paru-paru pasien Covid-19 yang diotopsi setelah meninggal menunjukkan banyak sel-sel radang. Bahkan, tes PCR hanya menemukan sedikit virus SARS-CoV-2. Selain itu, jaringan sudah terjadi fibrosis, seperti keloid.

“Bayangkan kalau pasien sembuh tidak akan seperti semula,” ujar David.

Kesimpulannya, lanjut David, terdapat spektrum yang luas pada perjalanan penyakit COVID-19. Kerusakan orang, kata dia, lebih terjadi sebagai hasil interaksi virus dan respons imun tubuh itu sendiri.

“Masih banyak hal perlu dipelajari untuk dapat mengendalikan respons imun untuk mencegah dan mereversi kerusakan sebelum parah,” pungkasnya. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat