Asma dan Dampak Buruk Virus Korona Bagi Penderitanya

Rsalirsyadsurabaya.co.id – Virus korona yang saat ini menjadi pandemik diketahui menyerang sistem pernapasan. Tetapi itu tidak berarti penderita asma lebih rentan terinfeksi virus korona daripada orang lain. Meski begitu, virus ini tetap saja dapat memberi dampak buruk apabila menjangkiti para penderita penyakit asma.

Asma adalah masalah pernapasan yang disebabkan oleh radang saluran pernapasan yang membawa udara ke dan dari paru-paru, di mana kondisi ini sering menyebabkan kesulitan bernapas. Penyakit ini diderita orang-orang dari segala usia dan seringkali dimulai dari masa kanak-kanak, meski juga dapat berkembang untuk pertama kalinya pada orang dewasa.

Meski sama-sama berhubungan dengan sistem pernapasan, penderita asma tidak lebih mungkin terkena virus korona daripada orang lain. Namun, sebagaimana virus pernapasan lainnya, COVID-19 dapat membuat gejala asma yang mereka alami bertambah buruk, dan bahkan berpotensi mengalami serangan asma yang mengancam nyawa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mencantumkan asma, bersama dengan diabetes dan penyakit jantung sebagai kondisi yang membuat seseorang “lebih rentan menjadi sakit parah akibat virus korona”.

Kepala Saran Kesehatan di Asthma UK, Jessica Kirby mengatakan demikian, bahwa asma tidak membuat seseorang lebih rentan terinfeksi virus korona, melainkan jika orang dengan kondisi paru-paru seperti asma terkena virus korona, maka kondisi mereka bisa lebih parah.

Ia menambahkan, orang-orang dengan masalah paru-paru lebih mungkin mengalami komplikasi dan membutuhkan perawatan di rumah sakit ketika terkena virus korona. “Setiap infeksi pernapasan dapat menyebabkan masalah bagi penderita asma dan sejauh ini, bukti menunjukkan bahwa virus korona tidak berbeda,” katanya, melansir Kompas.

Apakah Asma Merupakan Penyakit Penyerta?

Kebanyakan orang yang terkena virus korona hanya menderita efek ringan dan cenderung baik-baik saja di masa depan. Tetapi bagi sebagian kecil masyarakat, penyakit ini bisa mematikan, termasuk bagi mereka yang sudah memiliki masalah kesehatan mendasar.

Pose ancaman terbesar virus korona adalah mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah dan penyakit kronis jangka panjang. Meskipun asma tidak dianggap sebagai penyakit penyerta, tetapi penyakit ini masih merupakan kondisi yang harus diwaspadai selama pandemi korona, karena penderita asma sudah memiliki masalah pernapasan. Ini dapat memicu virus korona menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.

Bahkan jika penderita asma tidak tertular virus korona, virus pernapasan seperti ini dapat memicu gejala yang dapat menyebabkan serangan asma. Salah satu dokter top Inggris telah mendesak penderita asma untuk tinggal di rumah saja jika memungkinkan untuk melindungi diri mereka dari tertular COVID-19.

Wakil Kepala Pejabat Medis untuk Inggris, Jonathan Van-Tam mengatakan, orang dengan asma harus menghindari interaksi yang tidak perlu untuk mengurangi penyebaran virus yakni dengan menerapkan pembatasan sosial.

Yang Harus Dilakukan Penderita Asma Agar Tak Terinfeksi COVID-19

Asma UK menyarankan mereka yang memiliki penyakit penyerta untuk melakukan langkah-langkah berikut di tengah pandemi korona:

– Hindari interaksi yang tidak perlu dengan orang lain termasuk pertemuan besar, berjabat tangan dengan orang atau memeluk orang lain, serta menghindari perjalanan yang tidak perlu, terutama menggunakan transportasi umum.

– Hindari pergi ke tempat-tempat umum seperti bar, restoran, dan bioskop.

– Jika memungkinkan, bekerja dari rumah.

– Tidak perlu mengisolasi diri sendiri, tetapi jaga kontak dengan orang lain seminimal mungkin.

National Health Service mengatakan, Anda perlu mengisolasi diri jika memiliki gejala virus korona atau hidup dengan seseorang yang memiliki atau berada dalam kategori “risiko tinggi” terhadap virus korona.

“Hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko serangan asma yang dipicu oleh virus adalah memastikan asma terkelola sebaik mungkin, yang berarti menggunakan inhaler setiap hari seperti yang diresepkan, dan jaga inhaler dalam jangkauan sehingga dapat menggunakannya jika gejala asma memburuk,” kata Jessica Kirby.

Arief Bakhtiar, dr.SpP(K),FAPSR Dokter Spesialis Paru RS Al-Irsyad Surabaya pun berpesan pada penderita asma, agar jika timbul sesak disertai gejala ISPA yang berat, maka perlu sesegera mungkin memeriksakan diri ke dokter.

“Jika gejala asma memburuk tetapi Anda tidak melakukan perjalanan ke daerah berisiko dalam waktu dekat atau melakukan kontak dengan seseorang yang positif terinfeksi virus korona, cobalah membuat janji dengan dokter sesegera mungkin,” ujarnya. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat